Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 11/10/2008
Akses kredit usaha rakyat terhambat kenaikan BI Rate
JAKARTA: Kenaikan BI Rate menjadi 9,5% diprediksi akan menekan penyaluran kredit usaha rakyat, karena bank-bank penyalur menaikkan rata-rata bunga pinjaman ke debitornya.
Tony Prasetiantono, Peneliti Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, mengatakan kenaikan bunga kredit akan berdampak pada akses KUR yang menjadi sumber pendanaan paling andal untuk sektor riil saat ini.
Dia berpendapat kenaikan suku bunga kredit itu ada kepentingan antara menaikkan dan menurunkan atau tetap. Jika tidak dinaikkan akan berbahaya dari sisi inflasi.
"Jadi yang penting sekarang ini adalah trigger-nya dengan memulai menurunkan suku bunga. Setelah itu baru bisa mendorong sektor rill. Negara-negara besar juga melakukan ini," papar Tony Prasetiantono pada diskusi Resesi Global dan Dampaknya terhadap Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, kemarin.
Pemerintah diminta tetap fokus menggerakkan sektor riil dalam menghadapi situasi krisis global karena benteng pertahanan perekonomian Indonesia berada pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah.
Dia mengatakan pemerintah tidak perlu panik menghadapi situasi dunia saat ini, karena inflasi nasional dipatok 12%.
Namun, dia meragukan sikap pemerintah untuk lebih mementingkan sektor riil dengan cara tidak menaikkan suku bunga atau sebaliknya memikirkan inflasi lebih dahulu karena itu adalah indikator utama perekonomian.
"Kita tidak harus panik dengan situasi yang dialami AS karena nilai ekspor masih relatif kecil dibandingkan ke Asia," kata Tony Prasetiantono.
Hal yang penting, pemerintah diminta tidak menaikkan BI Rate melebihi psikologis 10%. Adapun kenaikan maksimal adalah 9,075%, dan setelah nilai tukar rupiah atas dolar AS di bawah Rp9.400, BI Rate bisa diturunkan kembali.
Dolar AS sebenarnya sudah mulai melemah atas rupiah, tapi sayangnya rupiah juga belum menguat sehingga ada yang bertanya-tanya, apakah demikian pesimisnya masyarakat terhadap prospek bisnis Indonesia sehingga lebih percaya menyimpan dolar AS daripada rupiah?
Dalam kondisi saat ini perbankan dinilainya terlalu agresif karena loan to deposit ratio-nya (LDR) mencapai 76%, bahkan ada yang lebih. Perbankan harus mengerem jika tidak ingin menghadapi masalah dengan hadangan nonperforming loan (NPL) pada tahun depan.
"Saya khawatir pada 2009 bank-bank akan panen NPL jika ekspansi kredit tidak dibatasi pada tahun ini di 2008," ungkap ekonomi Bank BNI itu.
Oleh Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KUOTA
Harga daging sapi naik - KUOTA
Stok beras di Jakarta melimpah - Harga minyak nilam kembali normal
- Apegti siap salurkan gula dari Bulog
- Pungutan ekspor sawit diduga tetap 0% tahun depan