Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 11/10/2008
Apkindo: Prioritaskan ekspor ke Jepang & Timur Tengah
JAKARTA: Pengurus Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) menyarankan anggotanya agar memprioritaskan ekspor panel kayu ke Jepang dan sejumlah negara di Timur Tengah yang nilai ekspornya per semester 2008 mencapai US$84 juta.
"Jika melihat data ekspor Apkindo dalam semester 2008 ini jelas pasar Jepang dan Timur Tengah jauh lebih menarik ketimbang ekspor panel ke Amerika Serikat (AS)yang hanya mencapai US$27 juta sejak Januari hingga Juni 2008," ujar Ketua Umum Apkindo Abbas Adhar kepada Bisnis, kemarin.
Nilai tertinggi ekspor kayu panel Indonesia ke AS terjadi pada Januari hingga Juni 2006 sebanyak 152.000 m3 dengan nilai US$72 juta. Angka itu meningkat jika dibandingkan dengan ekspor panel pada 2005 sebanyak 84.000 m3 dengan nilai US$41 juta.
Namun, ekspor panel ke AS itu menurun pada Januari hingga Juni 2007 yang hanya mencapai 67.000 m3 senilai US$48 juta dan merosot lagi Januari hingga Juni 2008 yang hanya mencapai 48.000 m3 dengan nilai US$27 juta.
Sebagian besar ekspor kayu ke AS didominasi furnitur untuk mengisi perlengkapan rumah tangga. "Selain perlengkapan rumah tangga, para pengusaha perumahan di sana juga membutuhkan kayu panel yang mempunyai kualitas tinggi."
Menurutnya, pasar ekspor panel dan woodworking Indonesia ke Jepang dan Timur Tengah jauh lebih tinggi dibandingkan AS. Volume ekspor panel kayu AS tidak besar, tetapi permintaan kualitas kayu tinggi, sehingga harganya cukup mahal..
Sejak Januari hingga Juni 2008, negara itu mengimpor 48.000 m3 kayu panel Indonesia yang nilainya US$27 juta, sedangkan ekspor kayu panel Indonesia ke Timur Tengah 76.000 m3 dengan nilai US$29,1 juta. "Yang tertinggi ekspor kayu panel Indonesia ke Jepang sebanyak 179.000 m3 dengan nilai US$84 juta."
Negara lain yang masih berpeluang untuk ditingkatkan ekspornya, adalah Taiwan, yang pada Januari hingga Juni 2008 mengimpor 30.000 m3 dengan nilai US$10 juta. "Krisis keuangan di AS, tidak perlu dirisaukan karena kualitas kayu kita sangat tinggi dan diterima di banyak negara."
Pengusaha rumah
Menghadapi situasi krisis ekonomi global, katanya, Apkindo menyarankan anggotanya agar mewaspadai transaksi dengan pengusaha perumahan di AS. "Sebagian besar pembayaran yang dilakukan pengusaha AS yang mengimpor kayu kita menggunakan pembayaran melalui fasilitas L/C yang dikeluarkan bank, sementara kondisi keuangan perbankan dalam keadaan sulit."
Solusi Apkindo untuk anggota adalah meningkatan produktivitas industri perkayuan untuk mengisi kebutuhan dalam negeri yang mulai meningkat. Kebutuhan kayu dalam negeri sekarang sudah mencapai 2 juta m3.
Kayu di dalam negeri itu dibutuhkan untuk perlengkapan rumah tangga dan kayu panel untuk membangun rumah. Banyak pengusaha industri perkayuan di Indonesia yang sudah mengoptimalkan penggunaan kayu karet dan kayu albasia, sehingga nilai operasional bahan bakunya tidak cukup murah.
"Harga pasar kayu yang sudah diproduksi mencapai US$250 per m3."
Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Produksi Kehutanan (BPK) Departemen Kehutanan, Hadi S. Pasaribu, mengatakan pengaruh krisis keuangan global, terutama di Amerika Serikat kurang berpengaruh terhadap ekspor kayu Indonesia. "Persentasenya hanya 3% dari seluruh produk industri kayu nasional."
Namun jika krisis keuangan berkepanjangan terus hingga beberapa bulan ke depan akan berpengaruh terhadap harga dasar kayu yang berlaku sekarang. "Kalau sekarang harga dasar kayu mencapai Rp300.000 hingga Rp350.000. Kalau krisisnya berkepanjangan, harga dasar bahan baku kayu bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat. Imbas dari krisis itu yang dikhawatirkan terhadap perdagangan kayu nasional."
Oleh Erwin Tambunan
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KUOTA
Harga daging sapi naik - KUOTA
Stok beras di Jakarta melimpah - Harga minyak nilam kembali normal
- Apegti siap salurkan gula dari Bulog
- Pungutan ekspor sawit diduga tetap 0% tahun depan