Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 04/12/2008

Harga bahan pokok merangkak naik

JAKARTA: Harga beberapa barang kebutuhan pokok mulai merangkak naik menjelang Natal dan tahun baru 2009, kendati harga bensin premium telah turun sebesar Rp500 per liter sejak awal bulan ini.

Berdasar data di Departemen Perdagangan, sejumlah bahan pokok, seperti daging sapi, minyak goreng curah, cabai merah keriting dan bawang merah mengalami kenaikan pada bulan ini. (lihat tabel)

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan Subagyo mengatakan antisipasi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru 2009 sama seperti yang dilakukan saat memasuki puasa dan Lebaran dengan menjaga ketercukupan pasokan dan produksi.

"Pemerintah meminta kepada mitra kerja untuk menjaga produksi dan distribusi serta pasokan sama seperti saat menjelang Lebaran lalu," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Menurut dia, pemerintah dan mitra kerjanya telah melakukan serangkaian rapat koordinasi untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Natal dan tahun baru agar tidak menimbulkan inflasi berlebih.

Berdasarkan data BPS, penurunan harga selama November terjadi pada daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, telur ayam ras, bensin, angkutan antar kota, angkutan udara, daging sapi, kangkung, petai, tahu mentah, cabai rawit, kelapa, besi beton dan bahan bakar rumah tangga.

Harga beras


Harga beberapa jenis beras mulai merangkak naik Rp100 per kg di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).

Harga beras jenis Muncul I, II, III naik sebesar Rp100 per kg menjadi Rp5.500 per kg, Muncul II Rp5.300 per kg, Muncul III Rp5.000 per kg.

Jenis IR64-I, II, III masih tetap Rp5.400 per kg, IR64-II Rp5.100, IR64-III Rp4.800 dan IR-42 naik sebesar Rp100 per kg menjadi Rp5.950 per kg.

Thomas Sembiring, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi), mengatakan harga daging sapi seharusnya dapat lebih rendah sekitar Rp40.000-an per kg, atau Rp50.000 per kg di tingkat eceran mengikuti harga internasional. Masalahnya, kini terjadi pelemahan rupiah.

"Pelemahan nilai dolar menyebabkan harga daging naik. Padahal, harga daging sudah turun jika kurs rupiah masih Rp9.000 per US$," ujarnya.

Dia menjelaskan harga daging sapi di luar negeri turun sekitar US$0,7-US$1 per kg, tetapi harga di dalam negeri masih tetap mahal sekitar Rp61.000 per kg.

Harga daging dan telur ayam masih menyumbangkan deflasi pada November 2008, padahal sebelumnya selalu menyumbangkan inflasi.

"Harga daging dan telur ayam masih stabil, belum ada gejolak. Sejak masa puasa dan lebaran sebesar Rp22.000-Rp25.000 per kg untuk ayam ras," ujar Hartono, Ketua Pusat Informasi Pasar Unggas (Pinsar) kepada Bisnis, kemarin.

Menurut dia, harga ayam hidup di peternak Rp15.500 per ekor dan harga daging ayam boiler Rp20.000-Rp25.000 per kg, sedangkan harga telur Rp14.000 di tingkat peternak dan Rp16.000 di tingkat eceran.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Lopies mengatakan harga tepung terigu hanya dipengaruhi oleh harga gandum dan nilai tukar rupiah. (19) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KUOTA
    Harga buah di Kendari naik
  • KUOTA
    India pasar utama Sumut
  • KUOTA
    Kuota sapi bali turun
  • KUOTA
    Ekspor kakao Aceh bergairah