Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 04/12/2008

Mendag: Waspadai perlambatan perdagangan dunia tahun depan

Nusa Dua, BALI: Menteri Perdagangan Mendag Mari E. Pangestu mengingatkan ancaman penurunan perdagangan Indonesia tahun depan menyusul proyeksi perlambatan perdagangan dunia sebesar 2,5% pada 2009.

Menurut dia, Bank Dunia telah memproyeksikan bahwa pada 2009 terjadi kontraksi atau penurunan perdagangan internasional. Kondisi ini dipastikan berimbas kepada Indonesia.

"Ini pertama kalinya sejak 1982 Bank Dunia memperkirakan terjadi kontraksi perdagangan dunia. Karena itu, kita harus benar-benar mengantisipasi bahwa akan terjadi penurunan yang tajam pada perdagangan kita," ujarnya seusai menjadi pembicara kunci dalam Indonesia Palm Oil Conference di Bali kemarin.

Sayangnya, Mari enggan menyebutkan berapa potensi penurunan perdagangan, khususnya ekspor Indonesia. Dia mengaku pemerintah belum selesai menghitungnya sehingga tidak berani mengemukakan target maupun proyeksi.

"Saya hanya berani mengatakan ada beberapa sektor masih mengalami pertumbuhan seperti ekspor CPO dan beberapa produk yang tidak terpengaruh besar pada demand dunia," katanya.

Dia memperkirakan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) masih mampu mengalami pertumbuhan karena negara tujuan ekspor terbesarnya seperti India dan China masih akan tetap tumbuh karena pertumbuhan jumlah penduduk di negara tersebut.

Selain CPO, lanjutnya, batu bara juga masih akan bertahan di tengah krisis. Hal ini disebabkan oleh komoditas itu umumnya diperdagangkan dalam kontrak berjangka untuk pembangkit listrik.

"Pembangkit listrik sudah untuk switch. Berbeda dengan produk lain seperti aluminium, nikel, yang banyak dipakai untuk manufaktur. Alat-alat itu sekarang turun permintaannya."

Di luar itu, kata Mari, mayoritas produk dipastikan mengalami penurunan ekspor, terutama produk olahan seperti tekstil dan sepatu.

Andalan ekspor


Menanggapi gejolak harga CPO, dia mengungkapkan CPO masih menjadi andalan peningkatan nilai ekspor Indonesia karena peningkatan harga komoditas di pasar dunia.

Sepanjang 2008, harga rata-rata CPO dunia mencapai US$600-US$700 per ton atau naik dibandingkan dengan rata-rata 2007 sebesar US$632 per ton. Angka ini juga lebih baik dibandingkan dengan 2005 yang mencapai US$520 per ton.

Mochtar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan, mengatakan hingga saat ini belum mendapatkan angka terbaru dari Bappenas tentang asumsi pertumbuhan ekspor 2009. Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memprediksikan ekspor 2009 hanya akan bertumbuh sebesar 9,5%-11%.

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KUOTA
    Harga buah di Kendari naik
  • KUOTA
    India pasar utama Sumut
  • KUOTA
    Kuota sapi bali turun
  • KUOTA
    Ekspor kakao Aceh bergairah