Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/12/2008

Pengguna barcode meningkat pada 2009

JAKARTA: Perusahaan standardisasi penomoran global (barcode), Global Standar (GS) 1 Indonesia optimistis jumlah produk lokal yang menggunakan sistem barcode akan meningkat tahun depan seiring dengan krisis ekonomi global yang terjadi saat ini.

CEO GS1 Indonesia Thatit Guritno mengatakan dengan menggunakan barcode dan GS1 system akan mempermudah pengontrolan stok dan standardisasi sehingga produk yang sudah memiliki barcode memiliki daya saing di pasar global.

"GS1 Indonesia sudah diakui secara internasional. Jumlah perusahaan yang akan menggunakan barcode ini akan meningkat setiap tahunnya. Apalagi tahun depan," ujarnya dalam acara Temu Member GS1 Indonesia 2008 di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan GS1 Indonesia merupakan sistem standard jaringan pemasok yang banyak digunakan di seluruh dunia dan GS1 juga sudah terintegrasi secara global.

Di jalur perdagangan internasional, jelas Thatit, dengan mengimplementasikan teknologi barcode pada produk maka akan menjadikan produk tersebut sebagai produk global yang dapat diekspor ke mancanegara dan siap bersaing di pasar global.

Kepala Pengembangan Bisnis GS1 Indonesia Eddy Syahbudi mengatakan saat ini sudah ada 2784 perusahaan lokal yang bergerak di bidang manufaktur, distributor, retailer, usaha kecil menengah, dan publisher yang mendaftar di GS1.

"Prediksi tahun depan jumlah perusahaan akan meningkat lagi sebanyak 250 member dan 60%-nya dari sektor UKM."

Menurut dia, meskipun saat ini terjadi krisis global, ekspor produk lokal ke negara lain seperti Malaysia dan Singapura akan terus meningkat karena daya beli masyarakat terutama untuk produk makanan masih cukup bagus.

Dia memaparkan syarat mendapatkan penomoran untuk produk lokal tidak terlalu sulit, yaitu lokasi perusahaan di Indonesia, produk yang dipasarkan harus jelas dan setiap perusahaan yang mendaftar akan mendapatkan barcode untuk semua barang yang diproduksi perusahaan bersangkutan.

Dia menjelaskan produk yang sudah memiliki barcode akan lebih mudah diekspor karena sesuai dengan persyaratan perdagangan internasional, setiap produk ekspor harus pakai barcode. Selain itu produk yang akan masuk ke seluruh toko eceran, supermarket, departemen store, ataupun hypermarket juga harus menggunakan perangkat scanner.

Pasar tradisional


Sekretaris Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Rudi Sumampow mengatakan pada umumnya produk-produk yang ada di ritel terutama produk besar memang pakai barcode, sedangkan barang-barang kecil ada sistem khusus untuk mengawasinya.

"Pada umumnya semua produk di ritel menggunakan barcode, sedangkan dari BPOM sudah mensyaratkan sistem baru untuk standardisasi."

Dia menjelaskan bagi peritel akan sangat menghambat jika semua produk diberlakukan dengan sistem barcode karena tidak semua peritel menggunakan sistem yang canggih. Apalagi pasar tradisional banyak yang belum menggunakan sistem barcode.

"Kalau pasar modern yang dilengkapi teknologi yang memadai, sistem barcode tersebut bisa dilakukan," ujarnya.

Menurut dia, penerapan sistem barcode hendaknya tidak berlaku untuk seluruh produk sehingga tidak menyulitkan ritel tradisional karena sistem barcode tersebut merupakan sistem keterangan produk agar semuanya jelas. (12)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KUOTA
    Harga buah di Kendari naik
  • KUOTA
    India pasar utama Sumut
  • KUOTA
    Kuota sapi bali turun
  • KUOTA
    Ekspor kakao Aceh bergairah