Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Perdagangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/12/2008

Apegti siap salurkan gula dari Bulog

JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) siap menjadi distributor gula dengan menyerap gula sebesar 200.000 ton langsung dari gudang Bulog yang tersebar di seluruh divisi regional (Divre).

Ketua Umum Apegti, Natsir Mansyur mengatakan perdagangan gula menjadi lebih kompetitif dengan masuknya Bulog menjadi distributor I (langsung dari pabrik gula), sehingga tidak lagi dikuasai beberapa pengusaha besar, yang dikenal dengan nama Delapan Samurai.

"Selama ini Apegti harus membeli dari tangan kedua dan ketiga tidak dapat langsung masuk ke PTPN, karena sulit untuk masuk karena adanya beberapa pengusaha yang selama ini menguasai perdagangan gula," ujarnya pada saat acara Sosialisasi Distribusi Gula oleh Bulog, kemarin.

Dia menjelaskan untuk masuk langsung ke PTPN harus menjadi penalang gula petani, sedangkan Apegti tidak dapat masuk karena proses birokrasinya panjang seperti harus mendapat persetujuan PTPN, dan rekomendasi Menteri Perdagangan.

PTPN, katanya, menunjuk pengusaha yang akan menalangi gula, tetapi saat harga gula jatuh pengusaha tidak menanggung kerugian itu. "Pengusaha gula yang tergabung dalam Apegti di daerah bisa membeli gula pada distributor II dengan harga tinggi," ujarnya.

Menurut Natsir, melalui kerja sama ini, Apegti menjadi distributor II dengan membeli gula langsung dari dari Bulog selaku distributor I.

Dia menyarankan 75% gula produksi nasional dikuasai Bulog, sehingga berada dalam satu pintu dengan posisi pada distributor pertama menggantikan pedagang gula yang selama ini monopoli.

"Hubungan Bulog dengan Apegti ditata kembali seperti halnya Asosiasi Penyalur Logistik Indonesia [Aplindo] dengan Bulog dalam distribusi beras."

Natsir menambahkan permasalahan gula terjadi saat jenis rafinasi masuk ke eceran sehingga gula jenis kristal putih tidak laku di pasar.

Ikut mengawasi


Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan Apegti berpeluang untuk bekerja sama dengan Bulog dalam mendistribusikan gula dari PT Perkebunan Nusantara dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Mustafa menambahkan agar kerja sama dengan Apegti tidak menambah mata rantai baru dan sebaliknya ikut membantu mengawasi peredaran gula. "Membantu menyeleksi anggotanya apakah layak, kemudian diawasi agar tidak melenceng."

Menurut dia, kerja sama ini nantinya sama dengan kerja sama Bulog dengan Aplindo dalam pengadaan dan penyaluran beras Bulog.

Bulog telah mendistribusikan gula PT Perkebunan Negara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk tahap pertama sebanyak 253.900 ton tanpa sistem tender hingga 2009 [sebelum musim giling tebu].

Menurut dia, gula itu tidak harus dihabiskan pada 2008, tetapi boleh hingga 2009 khususnya sebelum masa giling tebu.

Ridwan Hisyam, Ketua Apegti Jawa Timur menilai Bulog seharusnya dapat mendistribusikan gula dari PTPN dan RNI sebanyak 70% dari total produksi sehingga dapat menjadi stabilisator harga gula. (19)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KUOTA
    Harga buah di Kendari naik
  • KUOTA
    India pasar utama Sumut
  • KUOTA
    Kuota sapi bali turun
  • KUOTA
    Ekspor kakao Aceh bergairah