Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

Jepang setujui harga gas RI US$18/juta Btu

JAKARTA: Indonesia akhirnya mencapai kesepakatan dengan konsumen LNG Jepang untuk kontrak perpanjangan selama 10 tahun dengan harga di atas level US$18 per juta Btu pada basis harga minyak US$110 per barel sekaligus menjadi harga kontrak LNG tertinggi di dunia.

Deputi Finansial, Ekonomi, dan Pemasaran Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas Djoko Harsono mengatakan harga kontrak LNG dari kilang Arun dan kilang Bontang yang berakhir 2010-2011, sebenarnya merupakan harga premium bahkan tertinggi di dunia saat ini.

Kisaran harga LNG pada kontrak lama berada di kisaran US$13-US$18 per juta Btu pada level harga minyak US$110 per barel.

"Selain kilang Tangguh, atau dari kilang Arun dan Bontang harga LNG kita sebenarnya yang terbaik di dunia saat ini. Untuk perpanjangan kontrak, harganya akan lebih tinggi lagi dari US$18 per juta Btu dengan kisaran harga minyak yang sama," katanya kemarin.

Menurut dia, negosiasi harga dalam perpanjangan kontrak itu sudah tuntas. Hanya saja, ada beberapa klausul kontrak yang masih perlu pembicaraan sehingga belum ditentukan kapan kontrak akan ditandatangani.

"Termasuk di dalamnya masalah biaya transportasi. Saya dengar mereka mau terlibat," katanya.

Namun, Djoko menegaskan konsumen Jepang akan tetap memilih LNG dari Jepang, kendati dengan harga premium.

Mereka, tuturnya, berpaling dari tawaran Qatar ataupun Rusia kendati menawarkan harga yang lebih rendah.

"Biaya transportasi dari Qatar sangat mahal dan mereka lebih rela menyerahkan [keuntungan dari beban biaya transportasi LNG] ke Indonesia. Selain itu, Indonesia sudah memasok LNG 30 tahun ke Jepang sehingga ada jaminan."

VP Komunikasi Pertamina Wisnuntoro mengatakan kenaikan harga LNG ikut dipengaruhi oleh eskalasi harga minyak, sebagai salah satu variabel formula harga. Bila harga minyak naik, katanya, harga LNG otomatis ikut bergerak naik, termasuk dari Indonesia.

"Kalau kisaran harga minyak US$100 per barel saja, harga LNG dari Pertamina ke Jepang ada di ki-saran US$15-US$16 per juta Btu," tegasnya.

Pertamina merupakan operator dari kilang Arun dan kilang Bontang. Kilang Arun berkapasitas 12,5 juta ton per tahun dan kilang Bontang berkapasitas 22,5 juta ton per tahun. Konsumen LNG dari kedua kilang tersebut a.l. Kansai Electric Power Co, Chubu Electric Power Co, Osaka Gas Co, dan tiga konsumen lainnya.

Pasar global


Secara global, harga LNG juga mengalami eskalasi, bahkan diprediksi kenaikannya bisa mencapai 80% untuk pasaran Asia tahun ini.

Selain soal harga minyak, yang disebut-sebut semakin mengaitkan diri dengan harga LNG, kenaikan harga LNG juga dipicu oleh keterlambatan pasokan dari beberapa negara.

Dalam lima tahun terakhir, harga bahan bakar itu naik tujuh kali lipat hingga mencapai rekor US$20 per juta Btu, akibat tingkat produksi dari proyek yang sudah disetujui tidak mencapai target, sehingga memperburuk pasokan untuk memenuhi permintaan.

Andy Flower, konsultan dan mantan eksekutif di bisnis LNG BP Plc, sebagaimana dikutip Bloomberg, menyebutkan kilang-kilang di Rusia, Yaman, dan Indonesia, dengan kapasitas mencapai 24 juta ton  per tahun kemungkinan akan terlambat pasok tahun depan.

Tertundanya produksi LNG oleh ExxonMobil Corp dan Chevron Corp akan menjadikan defisit pasokan secara global hingga mencapai 100 juta ton, atau lebih dari kebutuhan tahunan Korea Selatan dan Jepang.

Beberapa proyek di Australia, Nigeria, Aljazair, dan kawasan Baltik juga tertunda. "Musim dingin tahun ini [pasokan LNG] mungkin akan sangat ketat karena tidak akan ada banyak pasokan yang tersedia," kata Andy.  (rudi.ariffianto@bisnis.co.id)

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Produksi LNG dunia melambat
  • EKSPLORASI
    Larangan operasi NTC siap dicabut
  • Izin usaha SPBU penolak premium terancam dicabut
  • PGN operasikan stasiun induk CNG 2011