Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

Medco & Dedini garap bioetanol US$2 miliar

JAKARTA: Grup Medco menggandeng Dedini Agro, salah satu produsen utama etanol Brasil, menggarap proyek hulu dan hilir bioetanol berbasis tebu di Merauke, Papua dengan nilai investasi US$2 miliar.

Pendiri Grup Medco Arifin Panigoro mengatakan kerja sama dengan Dedini itu akan difinalisasi dan diharapkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bisa dilakukan pada November, bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke negara pengguna bioetanol terbesar dunia itu.

"Sekarang kerja sama sudah pada pembahasan final. Saya akan ikut Presiden ke Brasil pada November," katanya, kemarin.

Dia mengatakan kerja sama akan dimulai dengan pembangunan kilang percobaan berkapasitas 3.000 barel setara minyak per hari (boepd). Investasi yang dibutuhkan membangun satu kilang itu diperkirakan mencapai US$200 juta.

Berdasarkan taksiran itu, dengan 10 unit kilang yang direncanakan berkapasitas total sebanyak 30.000 boepd dibutuhkan investasi minimal sebanyak US$2 miliar. Pembangunan kilang diharapkan bisa tuntas dalam tiga tahun.

Untuk menyokong bisnis hilirnya, Medco juga membangun sisi hulu bisnis etanol tersebut. Arifin mengatakan kelompok itu telah mengajukan pengalihan status lahan hutan produksi konversi menjadi alokasi penggunaan lain lebih dari satu juta hektare.

Seluas 300.000 hektare, katanya, akan ditanami tebu sebagai bahan baku. Medco juga akan mengembangkan beberapa tanaman pangan, di antaranya kedelai, jagung, kelapa sawit, dan shorgum sebagai bagian komitmen Medco terhadap daerah itu.

Seperti diketahui, Pemkab Merauke memiliki program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Untuk mewujudkan program itu, Pemkab bahkan merencanakan mengalihkan fungsi hutan produksi konversi sebanyak 1,4 juta hektare, lebih besar dari yang diajukan Medco.

Generasi kedua


Terkait dengan pengembangan biofuel, Arifin menyarankan pemerintah untuk segera mengembangkan biofuel generasi kedua yang berbasis pada selulosa.

Dorongan itu, katanya, perlu dilakukan mengingat rencana Amerika Serikat yang akan menggalakkan biofuel berbasis selulosa itu pada lima tahun mendatang.

"Kita sudah kuasai generasi pertama. Saya kira langsung saja loncat ke generasi lanjut. Ka-lau selulosa menjadi basis bahan baku, In-donesia menjadi negara luar biasa potensialnya," katanya.

Terkait dengan pengembangan Blok A di Aceh, Arifin mengatakan pihaknya sudah menyepakati percepatan pengembangan proyek itu untuk memasok gas ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Aceh. Namun, dia mengatakan proyek itu kemungkinan baru bisa memasok PIM dua tahun mendatang.

Menurut dia, harga gas untuk PIM dipatok pada kisaran US$6 per juta Btu. Nilai itu lebih tinggi dari harga yang ditetapkan dalam kontrak jual beli yang ditandatangani pada Desember 2007, yaitu US$5,1 per juta Btu.

"Tapi masalahnya daerah melalui bupatinya komplain karena harga LNG Bontang lebih tinggi dari harga gas ke PIM. Dia [Bupati Aceh Utara] bilang kalau buat LNG lebih menguntungkan, tutup saja PIM kita jual LNG."

Blok A diperkirakan mempunyai cadangan gas 450 miliar kaki kubik. Karena kandungan karbon dioksidanya tinggi, biaya pengembangannya pun cukup besar. (rudi.ariffianto@bisnis.co.id)

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Produksi LNG dunia melambat
  • EKSPLORASI
    Larangan operasi NTC siap dicabut
  • Izin usaha SPBU penolak premium terancam dicabut
  • PGN operasikan stasiun induk CNG 2011