Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 06/09/2008

Konsumsi elpiji 12 kg naik lagi 5%

JAKARTA: Konsumsi elpiji selama Juli-Agustus naik 5% kendati sempat terjadi kenaikan harga hingga dua kali.

Dirut Pertamina Ari Soemarno mengatakan konsumsi elpiji 12kg naik 5% dari 85.000 ton pada Juli menjadi 87.000-88.000 ton pada Agustus 2008. Padahal, tuturnya, dalam dua bulan tersebut terjadi dua kali kenaikan, yaitu pada 1 Juli dan pada 25 Agustus.

"[Kenaikan harga] tidak ada pengaruh pada tingkat konsumsi. Volumenya malah naik yang itu disebabkan adanya pertambahan konsumen di kalangan menengah yang tadinya masih pakai minyak tanah, begitu minyak tanah hilang mereka menyerbu elpiji kendati harganya naik," jelasnya, kemarin.

Pada 1 Juli, Pertamina-produsen sekaligus pemain tunggal  distribusi elpiji bertabung-menaikkan harga elpiji kemasan 12kg sebesar 23% dari Rp4.250 per kg menjadi Rp5.250 per kg, atau dari Rp51.000 per tabung menjadi Rp63,000 per tabung.

Kenaikan juga terjadi pada 25 Agustus, atau sepekan menjelang Ramadan. Pertamina menaikkan harga Rp500 per kg atau menjadi Rp5.750/kg dan Rp69.000 per tabung.

Pada saat yang sama, Pertamina juga menaikkan elpiji kemasan 50kg, dengan menurunkan diskon yang semula 15% menjadi hanya 10% sehingga harga per kg elpiji naik dari Rp6.878kg menjadi Rp7.255/kg.

Akibat peningkatan konsumsi itu, Pertamina mengaku kewalahan menyediakan tabung elpiji 12 kg. Ari mengatakan perseroan siap melakukan impor tabung kemasan 12 kg untuk memenuhi kebutuhan, di saat produsen tabung dalam negeri berkonsentrasi menyediakan tabung kemasan 3 kg.

"Kami sudah antisipasi dengan menambah impor tabung elpiji. Produsen dalam negeri konsentrasi ke tabung 3 kg," katanya.

Dia tidak menjelaskan berapa jumlah tabung akan diimpor dan kapan hal itu dilakukan.

Di sisi stok elpiji, Ari juga menjelaskan volume persediaan elpiji masih cukup secara nasional. Keterlambatan pasokan elpiji di beberapa daerah lebih disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi.

"Kalau elpiji kan harus masuk refrigerator dulu,  diberi tekanan, dari terminalnya dibawa ke stasiun pengisi elpiji, baru dimasukkan ke tabung dan didistribusikan," ujarnya.

Hal itu berimplikasi pada biaya dan kebutuhan infrastruktur yang meningkat, sehingga beberapa daerah yang belum memiliki infrastruktur, beban transportasi elpiji maupun tabungnya harus dibebankan ke konsumen dan mendongkrak harga akhir di konsumen.

"Nusa Tenggara Timur harganya bisa mencapai Rp150.000-200.000 karena tabungnya juga harus diangkut dari Bali," katanya.

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia









bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Produksi LNG dunia melambat
  • EKSPLORASI
    Larangan operasi NTC siap dicabut
  • Izin usaha SPBU penolak premium terancam dicabut
  • PGN operasikan stasiun induk CNG 2011