Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 08/09/2008
Tarif listrik tak naik hingga akhir 2009
JAKARTA: Pemerintah menjamin tarif dasar listrik (TDL) tidak akan naik hingga akhir 2009.
"Sampai akhir 2009 tetap pakai TDL 2004 yang ditetapkan pada 2003. Satu karena ini permintaan presiden dan kedua pemerintah ingin melihat upaya PLN turunkan BPP [biaya pokok produksi]-nya," tutur Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono akhir pekan lalu.
Pernyataan itu merupakan langkah lebih jauh pemerintah setelah pada Maret lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan tidak akan menaikkan tarif listrik pada 2008, di saat meski APBN dalam keadaan tertekan. Pada saat itu, Presiden juga meminta semua pihak berpikir untuk menghemat pengeluaran dibandingkan untuk buru-buru menaikkan BBM dan tarif listrik.
Purwono mengatakan salah satu upaya efisiensi yang dilakukan, yaitu diversifikasi BBM ke gas sebagai bahan bakar pembangkit. Selain itu, penghematan konsumsi listrik di kalangan industri melalui SKB lima menteri hingga kini berhasil menurunkan beban minimal 120 MW pada saat beban puncak.
"Makanya tidak ada lagi terjadi kekurangan daya, pemadaman bergilir, karena memang sudah ada dukungan dari beberapa industri terhadap SKB pertama itu."
Pemerintah, lanjutnya, terus merumuskan rencana penerapan program penghematan untuk mal, pusat bisnis dan rekreasi, termasuk perhotelan. SKB masih dibahas antara ESDM, Departemen Perdagangan, Asosiasi ritel, pedagang, mal, dan lainnya.
Dia berharap penerapan SKB jilid dua itu bisa dilakukan sebelum Lebaran.
SKB jilid dua sebelumnya sempat akan diberlakukan pada 25 Agustus 2008. Karena tidak ada kesepakatan di antara pemangku kepentingan, maka rencana itu urung diberlakukan hingga kini.
Namun, Direktur Jawa-Madura-Bali PLN Murtaqi Syamsudin mengatakan penerapan mekanisme penghematan di sektor bisnis sebenarnya sudah dilakukan untuk beberapa konsumen. Sektor bisnis yang bersedia mengikuti program tersebut, mengalihkan beban listriknya ke genset selama tiga jam seminggu pada saat beban puncak.
Purwono memprediksikan kondisi rumit kelistrikan nasional mungkin akan teratasi pada kuartal kedua 2009. Pada saat itu, tuturnya, beberapa pembangkit listrik tenaga uap dari program 10.000 MW pertama akan masuk sistem, seperti PLTU Labuan 300 MW, PLTU Indramayu 300 MW, dan juga PLTU Rembang.
"Praktis mulai pertengahan tahun depan margin cadangan bisa lebih dari 20%," katanya.
Mark up Paiton
Di tempat terpisah, Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Serikat Pekerja PT Pembangkit Jawa Bali (SP- PT PJB) mengungkapkan PT Paiton Energy Company (PEC) diduga telah melakukan mark up terhadap biaya pembangunan PLTU Paiton III dan IV sehingga berpotensi merugikan negara sebesar Rp10 triliun.
Ketua DPP SP PJB Edy Hartono mengungkapkan pembangunan unit III dan IV PLTU Paiton tidak dilakukan dengan mekanisme tender.
"Manajemen PLN mengatakan pembangunan unit itu melalui tender. Itu tidak benar dan jelas sebagai bentuk kebohongan publik dari manajemen PLN," ujarnya belum lama ini
Potensi kerugian negara itu, lanjutnya, estimasi pembangunan yang diajukan PEC sebesar Rp2,5 triliun, sementara PT PJB dapat membangun unit III dan IV dengan hanya US$1,5 triliun. "Kami mempertanyakan mengapa PEC diberi kesempatan membangun unit III dan IV, padahal harga listrik yang dijual lebih mahal dibandingkan dengan yang ditawarkan PJB.
Dia menjelaskan perhitungan harga PJB selalu dikatakan lebih mahal karena bahan bakar untuk pembangkitan didapat dari bahan bakar minyak, sementara untuk pengembang listrik swasta dihitung menggunakan bahan bakar gas atau batu bara yang harganya justru lebih murah.
Berkaitan dengan kesepakatan harga PEC dan PLN belum lama ini, Edy Hartono mengungkapkan kesepakatan jual beli listrik itu sangat merugikan terutama klausul yang menyatakan PLN tetap harus membayar 85% dari awalnya 83% atas listrik yang dihasilkan pengembang listrik swasta. (rudi.ariffianto@bisnis.co.id/diena.lestari @bisnis.co.id)
Oleh Rudi Ariffianto & Diena Lestari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- EKSPLORASI
KBB ajak investor Korsel - EKSPLORASI
Listrik hambat investasi Jatim - EKSPLORASI
AS terima minyak murah - EKSPLORASI
Pertamina bagi tabung 3 kg - Kontrak karya Rio Tinto diubah