Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 06/10/2008

Tren harga minyak diduga menurun menjelang akhir tahun

JAKARTA: Harga minyak  mentah diperkirakan akan terus turun pada sisa akhir tahun ini sebagai dampak dari penurunan permintaan dunia.

Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) Abdul Mu'in mengatakan krisis keuangan global cukup memukul permintaan minyak, kendati tidak merata terjadi di seluruh dunia.

Dia mencontohkan beberapa kawasan, seperti Eropa dan Amerika akan merasakan langsung dampak krisis tersebut, sedangkan di Asia dengan pertumbuhan ekonomi tinggi sekalipun mungkin krisis itu kurang berdampak.

Hanya saja, katanya, penurunan permintaan yang terjadi di kedua kawasan itu tidak pelak akan sangat berpengaruh terhadap penurunan harga, dengan penurunan yang bergantung pada seberapa besar penurunan permintaan tersebut.

"Semakin permintaan menciut, semakin tertekan pula harga minyak mentah," katanya kemarin.

Penurunan permintaan tersebut, tuturnya, akan berintegrasi dengan perubahan iklim yang biasanya justru merangsang harga minyak kembali naik.

"Nanti tergantung mana pengaruh yang lebih kuat di antara keduanya. Tapi, saya memperkirakan harga minyak akan cenderung terus turun hingga akhir tahun."

Adapun, bagi Indonesia yang konsumsinya justru terus naik, perubahan harga minyak mentah tersebut akan berpengaruh pada penerimaan negara pada APBN-P 2008, terutama realisasi penerimaan pada kuartal terakhir. Namun, katanya, pengaruh itu tidak terlalu signifikan bila dilihat dari penerimaan secara tahunan, menyusul telah diperolehnya windfall pada kuartalan sebelumnya.

"Kalau secara tahunan tidak besar pengaruhnya bagi penerimaan. Tapi untuk kuartalan penurunan harga itu akan terasa sekali," katanya.

Seperti diketahui, pada September 2008 harga rata-rata ICP untuk pertama kalinya berada di bawah level US$100 per barel, yaitu di posisi US$99,06. Dengan realisasi harga itu, berarti harga rata-rata ICP dari Januari hingga September 2008 berada di level US$111,75 per barel.

Rata harga minas, yang merupakan jenis minyak mentah Indonesia dengan harga paling premium bertengger di posisi US$101,95 per barel selama September, sedangkan untuk periode Januari-September di level US$112,86 per barel.

Menurut situs resmi Ditjen Migas Departemen ESDM, harga rata-rata ICP itu lebih rendah dari perkiraan Tim Harga Minyak Indonesia sebelumnya, yaitu antara US$ 112-118 per barel.

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 'Pengawasan hal paling penting'
  • EKSPLORASI
    KBB ajak investor Korsel
  • EKSPLORASI
    Listrik hambat investasi Jatim
  • EKSPLORASI
    AS terima minyak murah
  • EKSPLORASI
    Pertamina bagi tabung 3 kg
  • Kontrak karya Rio Tinto diubah
  • 4 PP pertambangan segera terbit
  • Proyek Donggi diperkirakan mundur
  • Mitsubishi pangkas produksi
    Harga tembaga mengalami penurunan