Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

Industri Jatim tunggu realisasi janji pasokan gas

Ketika harga minyak mentah menyentuh angka di atas US$147 per barel pada 11 Juli tahun ini, hampir semua industri yang mengandalkan bahan bakar minyak (BBM) harus melakukan kalkulasi ulang terhadap komponen biaya bahan bakarnya.

Berbagai langkah akrobatik dilakukan pengusaha akibat dampak kenaikan harga minyak mentah dunia itu. Ternyata memang harga di level US$147 per barel itu hingga kini belum terpecahkan. Kini, harga minyak sudah terjerembap dan berkutat di level sekitar US$90 per barel.

Hal yang sama juga terjadi di Jatim (Jatim). Persoalannya, antara permintaan dan penawaran gas di provinsi itu kini terjadi ketimpangan. Artinya, permintaan terhadap penggunaan gas melonjak drastis, sementara pasokan terbatas.
Minimnya pasokan gas terhadap industri, baik sektor manufaktur maupun jasa/komersial di Jatim, yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum juga teratasi.

Salah satu pengguna gas terbesar di Jatim adalah PT Petrokimia Gresik (Persero). BUMN pupuk itu kini memperoleh pasokan 43 MMscfd/juta kaki kubik per hari dari Kodeco dan Kangean Energy. Selain itu, sejumlah industri juga membutuhkan pasokan gas yang kebanyakan dipasok oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Strategic Business Unit II Jawa bagian Timur (Jabati).

PGN SBU II Jabati itu memasok 288 pelanggan industri, 82 pelanggan komersial dan 11.254 pelanggan rumah tangga. Total pasokan BUMN itu ke sejumlah pelanggannya di Jatim sebanyak 129,3 MMscfd. Artinya, Kodeco dan Kangean Energi serta PGN hanya mampu memenuhi kebutuhan gas di provinsi itu hanya 172,3 MMscfd. Padahal, data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim menyebutkan total kebutuhan industri di provinsi itu mencapai 256 MMscfd.

Akibat kekurangan pasokan gas, industri bisa dipastikan tidak mampu berproduksi secara optimal sesuai dengan kapasitas terpasang. Kondisi tersebut berdampak terhadap tidak terdongkraknya pemenuhan volume barang ke pasar domestik dan ekspor.

Direktur SDM & Umum PT Petrokimia Gresik, Bambang Setiobroto mengemukakan BUMN itu tahun ini hanya memperoleh pasokan gas 43 MMscfd dari kebutuhan 60 MMscfd.

Kondisi itu menyebabkan mereka hanya mampu memproduksi pupuk urea 80% dari kapasitas terpasang 460.000 ton/tahun. Adapun, kapasitas terpasang amonia 455.000 ton/tahun. Itu pun terealisasi di bawah kapasitas terpasang.

Bahkan, rencana pengembangan pabrik amonia dan urea Petrokimia Gresik pun harus ditunda. Di sisi lain, potensi kebutuhan urea kalangan petani dalam negeri maupun pasar internasional masih cukup besar untuk digali.

"Rencana [pengembangan pabrik amonia dan urea] diharapkan dapat direalisasikan sesudah ExxonCepu mengeksploitasi ladang gas di Bojonegoro serta JOB Pertamina-PetroChina memproduksi sumur Lengowangi di Gresik," harapnya.

Data di Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jatim menunjukkan provinsi itu memiliki 20 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengelola 30 blok migas. Cadangan terbukti gas bumi tercatat 3.134,88 BSCF (miliar kaki kubik) dan cadangan potensial 2.325,8 BSCF.

Adapun, yang berstatus produksi gas bumi baru delapan KKKS dengan volume produksi 369,5 MMscfd pada akhir 2007. Ke-8 KKKS itu terdiri dari DOH Jabati, JOB Pertamina-PetroChina East Java, TAC-Kodeco Poleng, Kodeco Energy, Kangean Energy Indonesia, Santos, Lapindo Brantas dan Hess Indonesia.

Produksi gas terbesar direalisasikan Hess Indonesia, yakni 100 MMscfd dari Blok Pangkah, Kab. Gresik, dan terkecil Lapindo Brantas hanya 14,5 MMscfd melalui eksploitasi sumur Wunut di Kab. Sidoarjo.

Produksi turun

Sumur-sumur yang dioperasikan itu cenderung menurun produksinya akibat sudah tua. General Manager PGN SBU II Jabati Mashadi mengakuinya. Contohnya, produksi sumur yang dioperasikan Lapindo Brantas kini sudah turun drastis. Padahal, seluruh produksi sumur itu diserap PGN SBU II.

"Produksi Lapindo cenderung menurun. Lapindo kini hanya memasok 9,3 MMscfd dibandingkan dengan awal tahun ini 11 MMscfd dan pada 2007 hanya 13 MMscfd. Sumur-sumur Lapindo sudah tua," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini. Begitu juga volume pasokan Kodeco ke PGN SBU II juga disebutkan turun menjadi 24 MMscfd dari 25 MMscfd pada awal tahun ini.

Menurut Mashadi, PGN SBU II juga memperoleh pasokan lagi dari Santos 96 MMscfd, sehingga total gas yang diserap BUMN itu 129,3 MMscfd yang ditujukan terhadap 288 pelanggan industri, 82 komersial dan 11.254 rumah tangga.

Selain disebabkan sumur telah tua, pasokan gas ke PGN SBU II belum optimal akibat terkendala terbatasnya pipa transmisi milik Pertamina di Porong yang meledak akhir November 2006. Ledakan tersebut membuat penyaluran gas dari Kangean ke Porong melalui jaringan East Java Gas Pipeline (EJGP) sepanjang 360 kilometer sempat tersendat.

Kondisi tersebut disiasati PGN SBU II dengan menyalurkan gas menggunakan pipa distribusi lewat offtake station di Porong milik BUMN tersebut, dimana kapasitasnya terbatas, sehingga gas yang masuk dari Santos-yang mengelola Blok Maleo hanya 96 MMscfd.

"Kontrak dengan Santos 110 MMscfd, tetapi sampai saat ini belum terealisasi sebanyak itu, sehingga kami belum mampu melayani tambahan permintaan yang diajukan pelanggan eksisting ataupun calon pelanggan baru," papar Mashadi.

Dia mengaku terus mencari tambahan pasokan dari KKKS lainnya, dan telah menjalin kesepakatan dengan ConocoPhilips yang dijadwalkan memasok gas 40 MMscfd pada 2011 melalui eksploitasi lapangan offshore di perairan Madura. Husky Oil East Bawean Ltd juga akan memasok 20 MMscfd pada 2012 melalui eksploitasi Blok East Bawean.

Harapan bertambahnya produksi gas di Jatim guna memenuhi kebutuhan industri setempat juga datang dari ExxonCepu sebanyak 41 MMscfd pada 2009 dan naik lagi menjadi 477 MMscfd pada 2020.

Kendati sejumlah sumur-sumur gas di Jatim mulai tahun depan menambah peningkatan volume pasokan ke pengguna, tetapi laju permintaan gas lebih cepat dibandingkan dengan kegiatan eksploitasinya. Pemprov Jatim pernah menyusun data kebutuhan gas bumi selama 2007-2020, dimana kebutuhan pada 2007 diketahui 620,69 MMscfd (industri dan pembangkit listrik) akan melonjak menjadi 882,30 MMscfd pada 2020.

Sementara rencana pasokan pada 2020 direncanakan hanya sebesar 597 MMscfd.  Kondisi tersebut akan membuat permasalahan gas bumi di Jatim belum teratasi hingga satu dasawarsa mendatang.

Beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyatakan pemerintah memprioritaskan produksi gas nasional untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dibandingkan dengan  permintaan ekspor dan Jatim kini menunggu janji itu bisa terealisasi sehingga industri di provinsi itu bisa berlari kencang. (redaksi@bisnis. co.id)

Oleh Adam A Chevny
Kontributor Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Pemerintah liberalisasi gasifikasi kota
  • Pertamina ingin partisipasi di Blok Semai V
  • Rio Tinto akan bertemu
    Pemkab Morowali & Konawe
  • PTBA pasok batu bara ke AME