Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

BP Migas minta produksi Masela untuk domestik

JAKARTA: Pemerintah menghendaki adanya alokasi pasokan gas alam cair (LNG) dari proyek gas milik Inpex Corp. di Blok Masela untuk domestik selain ekspor yang dialokasikan untuk pasokan ke Jepang.

Pasokan dari Masela tersebut diharapkan bisa menambal kebutuhan tambahan LNG untuk realisasi proyek terminal penerima LNG milik konsorsium BUMN energi, PT PLN, PT PGN Tbk. dan PT Pertamina (Perse-ro) di Bojonegara, yang baru kantongi komitmen pasokan  1,5 juta ton per tahun dari Total Inpex.

Padahal, berdasarkan pernyataan resminya Presdir Inpex Naoki Kuroda menyatakan akan mengalokasikan 100% produksi LNG untuk konsumsi di Jepang, yang kebutuhannya diperkirakan terus meningkat di tengah semakin menurunnya kemampuan Indonesia untuk ekspor karena memprioritaskan kebutuhan domestik.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas R. Prioyono mengatakan Inpex bisa saja memiliki keinginan untuk ekspor. Namun, katanya, di sisi lain pemerintah tetap berkomitmen untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik.

Hanya saja, dia mengakui dalam penetapan porsi antara keduanya perlu dilihat pula pendekatan keekonomian proyek. Sehingga, pada akhirnya pengalokasikan LNG Masela akan ditetapkan secara proporsional antara pasokan domestik dan ekspor.

"Kami akan lihat seberapa banyak untuk domestik dan ekspor. Sebab, untuk menetapkan itu harus diketahui dulu secara persis berapa biayanya supaya balik pokok. Kuncinya adalah keekonomian proyek karena kalau domestik lebih besar otomatis harga turun," jelas Prioyono, kemarin.

Dia mengakui dalam pengajuan plan of development (PoD) kepada BP Migas Inpex menetapkan asumsi harga ekspor. Sebagai perbandingan, tuturnya, saat ini harga internasional dan domestik berbanding US$14:US$6 per juta Btu.

Deputi Finansial, Ekonomi, dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono mengatakan sebagian produksi LNG akan dialokasikan untuk proyek terminal penerima milik konsorsium BUMN di Bojonegara, Banten, yang baru mendapatkan komitmen sebanyak 50% dari total kapasitas tiga juta ton per tahun.

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Pemerintah liberalisasi gasifikasi kota
  • Pertamina ingin partisipasi di Blok Semai V
  • Rio Tinto akan bertemu
    Pemkab Morowali & Konawe
  • PTBA pasok batu bara ke AME