Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 19/11/2008

AME investasi US$1,92 juta

JAKARTA: PT Arrtu Mega Energie (AME), perusahaan perkebunan sawit, akan investasi US$1,92 juta di proyek gasifikasi batu bara (coal gasification) dengan produksi 1,2 juta ton dymethil ether (DME) per tahun.

Dalam proyek ini, AME akan menggandeng Lurgi, perusahaan ternama asal Jerman, untuk mendukung pengembangan teknologi proses gasifikasi batu bara, mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair.

Perusahaan yang selama ini menjadi partner lokal Louis Dreyfus Commodities, perusahaan asal Jerman, di sektor perkebunan sawit, akan menjalin kerja sama dengan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk jaminan pasok batu bara dan PT Pertamina (Persero) sebagai pembeli produk (off taker).

President Director PT Arrtu Mega Energi Christoforus Richard mengatakan perusahaan tertarik mengembangkan proyek gasifikasi dengan produk akhir adalah DME, produk pengganti liquified petroleum gas (LPG) dan bahan bakar diesel.

Proyek gasifikasi ini, kata Christoforus, dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah mengenai konversi bahan bakar minyak (BBM) yakni minyak tanah ke LPG, seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Kebutuhan LPG di masa mendatang akan terus meningkat, kami ingin berpartisipasi mengurangi impor LPG dan meningkatkan suplai LPG dengan produk DME. Ekspor methanol juga dapat ditingkatkan," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Tambah produksi

Saat ini, impor LPG oleh Pertamina sekitar 500.000 ton per tahun. Pada 2013, impor LPG diperkirakan naik mencapai 5,5 juta ton dengan asumsi tidak ada tambahan produksi LPG.

Padahal, tukas Christoforus, Indonesia memiliki cadangan batu bara yang melimpah, termasuk batu bara jenis low rank coal. Untuk mengurangi tekanan impor LPG yang terus meningkat, tambahnya, perusahaan tertarik mengonversi batu bara menjadi bahan bakar cair yakni DME.

Di proyek ini, batu bara yang dipasok PTBA akan diubah menjadi gas sintetis yang selanjutnya diproses menjadi methanol mentah dan kemudian sebagai hasil akhirnya adalah DME.

Kebutuhan batu bara sebagai bahan baku produksi dalam proyek ini diperkirakan sebesar 5 juta hingga 6 juta ton per tahun.

AME-yang juga menjadi mitra lokal PTBA untuk kegiatan penambangan di wilayah Kalimantan-telah mendapatkan surat jaminan pasok dari BUMN pertambangan ini. Kebutuhan batu bara akan dipasok dari tambang Peranap yang saat ini konsesinya dikantongi oleh PTBA. (siti.munawaroh@bisnis.co.id)

Oleh Siti Munawaroh
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Premium di Jombang langka
  • EKSPLORASI
    BBN nonsubsidi dapat fasilitas
  • Terbukalah soal kelangkaan premium
  • Harga premium dunia anomali
    ICP bulanan terus merosot hingga akhir 2008