Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 19/11/2008
ADB danai proyek energi surya US$100 juta
JAKARTA: Pemerintah menyatakan Asian Development Bank (ADB) berkomitmen menyediakan dana pinjaman (standby loan) untuk mendukung pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya/matahari (PLTS/solar cell) senilai US$100 juta.
Direktur Industri Elektronik Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Syarif Hidayat mengatakan ADB telah berkomitmen menyediakan dana untuk menggarap proyek pemerintah tersebut.
"Saya mendengar mereka berminat terhadap proyek pemerintah ini. Standby loan tersebut diperkirakan mencapai US$100 juta. Sejumlah investor lokal mulai berminat menjajaki proyek ini meski masih mengkaji untung ruginya," terang Syarif di sela-sela Workshop Pengembangan Solar Energy, kemarin.
Saat ini, jelasnya, Indonesia memiliki intensitas radiasi matahari sekitar 4,8 kwh per meter persegi per hari. Kondisi ini diperkirakan cukup layak untuk pengembangan proyek listrik tenaga matahari.
"Untuk itu, sudah saatnya industri lokal melirik penggunaan energi bebas polusi secara massal dengan teknologi pembangkit listrik tenaga surya/matahari (PLTS)," katanya.
Namun sejauh ini, Indonesia baru memiliki sejumlah instalasi PLTS berkapasitas 8 megawatt peak (MWp)-10 MWp dari ketentuan ideal sekitar 880 MWp hingga 2025.
Berdasarkan Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 kontribusi PLTS hanya sekitar 0,4% dari 5% peranan energi baru dan terbantukan.
Dengan kondisi itu, lanjut dia, dibutuhkan tambahan kapasitas sel surya terpasang menjadi 880MWp pada tahun 2025 atau penembahan sekitar 44 (MWp) per tahun.
"Karena itu Depperin berupaya untuk mendorong terciptanya industri hulu solar cell yakni sektor pengolahan berbahan baku PVS (photo voltaic solar) ini sekaligus untuk mengurangi impornya. Saat ini sektor hulu solar cell belum berkembang," paparnya.
Untuk membangun unit-unit PLTS, katanya, diperlukan pasokan photo voltaic solar (PVS) yang terbuat dari silikon polycrystaline. Silikon tersebut dihasilkan dari industri pengolahan pasir silika.
Direktur Utama PT LEN Industri (persero)-produsen PV System/sektor hulu solar cell-Wahyuddin Bagenda menambahkan setiap tahun perseroan masih mengimpor sel surya dari Jerman untuk merakit PV System dengan dana Rp390 miliar.
"Setiap tahun kami memproduksi solar modul berkapasitas 3MWp. Jumlah ini sekitar 60.000 unit solar home system [pembangkit listrik tenaga surya rumahan] dengan kapasitas 5Wp," paparnya.
Saat ini, jelas dia, integrasi industri pembangkit listrik tenaga surya masih timpang.
Sebab, sektor hulu yakni industri pemurnian pasir silika menjadi metalurgy grade silicon belum berkembang optimal, sementara di sektor hilir a.l. industri wafer silikon, fabrikasi modul surya, hingga komponen elektronik yang terintegrasi dengan modul surya, relatif berkembang.
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- EKSPLORASI
KBB ajak investor Korsel - EKSPLORASI
Listrik hambat investasi Jatim - EKSPLORASI
AS terima minyak murah - EKSPLORASI
Pertamina bagi tabung 3 kg - Kontrak karya Rio Tinto diubah