Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 19/11/2008

Produksi minyak mentah terancam turun

JAKARTA: Produksi minyak mentah Indonesia diproyeksikan akan melorot hingga 250.000 barel per hari pada 2025 bila pemerintah dan industri gagal menemukan cadangan tambahan minimal 160 juta barel per tahun.

Di sisi lain, pemerintah memproyeksikan produksi sekitar 1,55 juta barel per hari, yang merepresentasikan 20% porsi migas dalam bauran energi Indonesia pada 2025.

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Suyitno Padmosukismo menginformasikan kebijakan pemerintah mengenai tingkat produksi minyak, yang hingga kini menjadi pegangan industri adalah menjaga produksi pada level satu juta barel sampai 2025.

Menurut dia, target tersebut cukup berat dan pesimistis bisa tercapai, sebagaimana pernah terjadi pada periode 2005-2006.

"Saat itu, pemerintah menargetkan produksi 1,3 juta bph. Kami katakan itu bisa, tapi harus bekerja ekstra keras, yang ternyata target itu gagal tercapai. Kami juga ragu dengan kebijakan menjaga produksi di level satu juta bph tercapai," jelasnya, kemarin.

Bahkan, dia justru memberikan pandangan lebih pesimistis dengan mengatakan produksi bisa melorot hingga level 250.000 bph.

"Ini akan terjadi bila pemerintah dan industri tidak melakukan tindakan apa-apa, sedangkan penurunan produksi alamiah pada level 9% per tahun,"ujarnya.

Suyitno mengungkapkan tingkat produksi akan lebih baik bila dengan level penurunan alamiah 9%, industri migas Tanah Air mampu menemukan sekitar 70-90 sumur wildcat baru (NFW/sumur pertaruhan cadangan baru). "Itu pun produksi yang bisa diperoleh hanya sebanyak 650.000 bph," tuturnya.

"Kalau penurunan alamiah bisa ditekan hingga 5% melalui penggunaan teknologi produksi, produksi yang akan diperoleh pada 2025 bisa mencapai 920.000 bph. Belum satu juta bph juga," katanya.

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Premium di Jombang langka
  • EKSPLORASI
    BBN nonsubsidi dapat fasilitas
  • Terbukalah soal kelangkaan premium
  • Harga premium dunia anomali
    ICP bulanan terus merosot hingga akhir 2008