Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 20/11/2008

PTBA pasok batu bara ke AME

JAKARTA: PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) siap memasok batu bara sebesar 5 hingga 6 juta ton per tahun kepada PT Arrtu Mega Energie (AME) yang berencana menggarap proyek pengolahan batu bara menjadi dymethil ether (DME).

Presiden Direktur Arrtu Christoforus Richard mengatakan batu bara tersebut bisa diolah menjadi DME, yakni gas sintetis sebagai produk substitusi liquefied petroleum gas (LPG).

"Kami telah menandatangani LoI dengan PTBA, dan kami meminta pasokan 5 hingga 6 juta ton per tahun sebagai feedstock untuk DME di Riau," tuturnya seusai penandatanganan letter of intent (LoI) di Gedung Kementerian BUMN, kemarin.

Arrtu berencana membangun pabrik pengolahan batu bara menjadi DME dengan nilai investasi diperkirakan sebesar US$1,92 miliar [bukan US$1,92 juta, Bisnis, 19 November 2008].

Perusahaan swasta ini akan menggandeng Lurgi, perusahaan asal Jerman untuk mendukung pengembangan teknologi gasifikasi batu bara dengan kapasitas produksi mencapai 1,2 juta ton per tahun atau setara dengan produksi metanol sebesar 1,7 juta ton per tahun.

Pabrik tersebut akan dibangun berdekatan dengan lahan batu bara PTBA yang memiliki cadangan hingga 1,3 miliar ton. Dari cadangan itu, batu bara yang bisa digali kemungkinan sekitar 600 juta ton.

"Kami siap memulai proyek tersebut yang akan dijalankan di atas lahan seluas 17.000 hektare," katanya.

Nantinya, PT Pertamina sebagai pelaksana program konversi minyak tanah ke elpiji akan membeli gas sintetis yang diproduksi dari pabrik di Peranap, Riau.

"Pertamina mau menjadi pembeli kalau harganya lebih murah dari elpiji," tutur Wadirut Pertamina Iin Arifin Takhyan.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ahmad Faisal mengatakan perseroan tertarik untuk menjadi off taker proyek gasifikasi batu bara yang dikembangkan AME, mengingat tingginya tingkat kebutuhan LPG pada masa mendatang.

Oleh Arif Gunawan S & Siti Munawaroh
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Premium di Jombang langka
  • EKSPLORASI
    BBN nonsubsidi dapat fasilitas
  • Terbukalah soal kelangkaan premium
  • Harga premium dunia anomali
    ICP bulanan terus merosot hingga akhir 2008