Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 21/11/2008

RI butuh 5 kilang BBM baru

JAKARTA: Indonesia masih membutuhkan tambahan lima kilang pada 2009 untuk memperbesar cadangan strategis bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Komisaris PT Pertamina Maizar Rahman menuturkan Indonesia sangat berkepentingan dengan pengadaan kilang, sebagai upaya memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Kilang ini dapat dijadikan sebagai stock pile BBM atau sebagai cadangan strategis," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menginformasikan di sejumlah negara maju, telah memiliki stock pile BBM yang cukup. Bahkan dengan stock pile yang cukup, stok BBM mencapai 90 hari konsumsi, dan 150 hari impor.

Maizar mencontohkan stok BBM hingga 90 hari ini dimiliki oleh Amerika Serikat. Sementara itu di Indonesia, cadangan BBM baru mencapai 20 hari.

Dia menyatakan pengelola dari kilang yang akan dijadikan stock pile BBM ini dapat dilakukan oleh swasta. Kemudian, PT Pertamina akan membayar biaya pengelolaannya.

Namun, dia mengeluhkan masih sedikit investor yang tertarik untuk berinvestasi pada pembangunan kilang di dalam negeri.

Menurut dia, penyebabnya karena investasi kilang sangat tidak ekonomis mengingat keuntungan yang didapatkan sangat rendah.

"Banyak investor yang mendaftarkan diri untuk membangun kilang, tapi sampai saat ini tidak juga diimplementasikan," katanya.

Padahal, katanya, kebutuhan untuk memiliki stock pile untuk meningkatkan kapasitas cadangan BBM dalam negeri mendesak dilakukan.

Dia menjelaskan Indonesia yang saat ini sudah masuk menjadi importir minyak, perlu mengantisipasi gejolak politik di Timur Tengah.

Saat ini, katanya, impor minyak selalu dilakukan dari Timur Tengah. Kapal tanker pengangkut minyak itu harus melalui selat Hormuz di Teluk Persia.

Kawasan Asia

"Selat ini memang jaraknya hanya 50 kilometer. Namun, kalau terjadi perang di Timur Tengah, kapal tanker tidak dapat melewatinya."

Selain itu, tambahnya, kebutuhan stock pile ini untuk menjaga persaingan dengan negara di kawasan Asia lainnya seperti Jepang yang juga membutuhkan impor minyak dari Timur Tengah.

"Nah, kita bersaing dengan mereka untuk mendapatkan pasokan minyak. Itu yang mesti dipikirkan dari sekarang ini," ujarnya.

Menurut Maizar, jika ternyata belum dapat melakukan pembangunan kilang, maka untuk menambah cadangan BBM, dapat mempergunakan tangki-tangki bahan bakar milik di kilang, depo, atau di perkapalan milik Pertamina.

Kapasitas total infrastruktur itu, katanya, sekitar 8 juta kiloliter atau 60 juta barel.

"Secara nasional baru dapat dimanfaatkan sekitar 50%, sehingga berpeluang sebagai penyimpanan cadangan BBM nasional jika ternyata belum dapat membangun kilang," tuturnya. (diena.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Diena Lestari
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Premium di Jombang langka
  • EKSPLORASI
    BBN nonsubsidi dapat fasilitas
  • Terbukalah soal kelangkaan premium
  • Harga premium dunia anomali
    ICP bulanan terus merosot hingga akhir 2008