Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/12/2008

ExxonMobil berpeluang masuk di Natuna

JAKARTA: ExxonMobil Corp. berpeluang besar kembali menjadi salah satu pengelola Blok Natuna D-Alpha apabila perusahaan itu bisa mengoptimalkan data teknis atas blok yang sempat dikuasai perusahaannya.

Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin Takhyan mengatakan ExxonMobil masih memiliki data teknis yang jauh lebih lengkap, bahkan bila dibandingkan dengan yang berada digenggaman BUMN tersebut.

Seandainya pemerintah memberi izin pembukaan data teknis itu saat ini juga, tuturnya, dengan data teknis yang dikuasainya Exxon bisa menjadi salah satu perusahaan yang berpeluang besar mendapatkan saham dan bekerja sama kembali dengan Pertamina di Blok Natuna D-Alpha.

"May be......," tuturnya dengan ekspresi tertawa menjawab pertanyaan Bisnis apakah perusahaan itu berpeluang besar masuk menjadi mitra Pertamina, pekan ini.

BUMN migas itu memproyeksikan kebutuhan dana untuk produksi gas di Blok Natuna mencapai US$20 miliar, atau sebesar Rp240 triliun apabila gas itu dialirkan melalui jalur pipa.

Menurut Iin, dari jumlah itu nantinya akan dibagi bersama mitra yang akan digandeng perseroan untuk mengeksploitasi gas di blok tersebut.

Pertamina sebelumnya mengeluhkan sikap pemerintah yang belum juga mengeluarkan izin pembukaan data teknis tersebut.

Padahal, sebagaimana disampaikan Direktur Hulu Pertamina Karen Agustiawan, manajemen delapan perusahaan calon mitra sedang menunggu-nunggu persetujuan itu sebelum mereka mengajukan proposal penawaran kepada BUMN tersebut.

"Walaupun sudah diajukan sejak sebulan lalu, sampai kini belum juga dibuka. Padahal, jika pemerintah segera membuka, manajemen dari delapan perusahaan calon mitra itu dapat segera mengevaluasi dan mengajukan proposal kepada kami."

Seandainya pemerintah segera membuka data, hanya membutuhkan waktu 3 pekan untuk menunjuk mitra Pertamina.

Menurut Karen, data dari pemerintah diperlukan agar manajemen delapan calon mitra Pertamina dapat menghitung keekonomian Blok Natuna D-Alpha.

Delapan peminat

Saat ini ada delapan perusahaan yang berminat jadi mitra Pertamina di Natuna. Kedelapan perusahaan itu adalah ExxonMobil Corp, Total SA, Chevron Corp, Statoil Hydro, Royal Dutch/Shell, China National Petroleum Corp. Petronas, dan Eni SpA. Terpilihnya delapan perusahaan itu merupakan keputusan final dari hasil kajian konsultan Pertamina Wood MacKenzie Ltd.

Statoil Hydro Norwy asal Norwegia bahkan mengirim Presiden and Chief Executive Officer StatoilHydro Norway Helge Lund ke Indonesia untuk menunjukkan minatnya masuk di blok itu. Dalam kunjungannya ke Indonesia, manajemen Statoil Hydro sempat bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla.

Alih-alih mengeluarkan izin pembukaan, pemerintah justru menyalahkan Pertamina dan Exxon sebagai eks pengelola blok kaya gas itu yang hingga kini belum mengembalikan data teknis yang dimilikinya kepada pemerintah.

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas A.Edi Hermantoro mengatakan pengembalian data itu merupakan kewajiban kontraktor apabila telah keluar dari satu blok migas, yang berlaku sejak 1997.

Di tengah silang pendapat soal data teknis dan kemungkinan posisi Exxon yang diuntungkan, Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno mengatakan pihaknya berharap penunjukan mitra sudah bisa dilakukan pada Januari 2009.

Sebagaimana dikutip Bloomberg dari Kuala Lumpur, Malaysia, baru-baru ini memperkirakan mitra yang akan digandeng BUMN itu lebih dari satu perusahaan.

"Ini harus lebih dari satu mitra. Ini [Blok Natuna D Alpha, adalah proyek yang] sangat besar," katanya. (bambang.jatmiko@bisnis.co.id/rudi.ariffianto@bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko & Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • EKSPLORASI
    Premium di Jombang langka
  • EKSPLORASI
    BBN nonsubsidi dapat fasilitas
  • Terbukalah soal kelangkaan premium
  • Harga premium dunia anomali
    ICP bulanan terus merosot hingga akhir 2008