Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Pertambangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/12/2008
Pabrik batu bara UBC dibangun komersial 2010
SATUI, Kalimantan Selatan: Indonesia diharapkan bisa membangun pabrik UBC (upgraded brown coal) secara komersial pada 2010 sehingga batu bara berkalori rendah dapat ditingkatkan kualitasnya melalui penurunan kadar air dari proses UBC itu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yugsiantoro mengemukakan pabrik percontohan UBC yang dibangun di Sungai Cuka, Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel ini diharapkan dalam waktu 1 tahun dapat diketahui keberhasilannya.
"Saya harapkan pada 2009, dari pabrik percontohan ini dapat memberikan kesimpulan atas proses UBC yang dilakukan di lokasi tambang batu bara milik PT Arutmin ini. Dengan demikian, pada 2010 sudah dapat dibuat secara komersial," tuturnya dalam peresmian pabrik UBC Demonstration di Satui, Kalsel kemarin.
Menurut dia, pabrik peningkatan kalori batu bara itu diharapkan memiliki kapasitas dengan skala lima kali lipat lebih besar dibandingkan dengan pabrik UBC percontohan di Satui.
Pabrik UBC percontohan yang diresmikan oleh Menteri ESDM ini berkapasitas 1.000 ton batu bara per hari. Pembangunan pabrik ini berdasarkan perjanjian kerja sama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL) dan Departemen ESDM.
Pabrik percontohan di Satui ini merupakan fase kedua setelah pembangunan proyek skala percontohan yang dibangun di Palimanan, Jawa Barat. Proyek Palimanan memiliki kapastias 5 ton per hari.
Pemerintah Jepang, Japan Coal dan Kobe Steel akhirnya memutuskan untuk membangun proyek percontohan pabrikasi UBC itu di Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel dengan dana sebesar US$64 juta.
Proyek UBC nantinya akan berproduksi 600 ton per hari. Produk itu akan terus evaluasi sehingga layak untuk dilempar ke pasar. Maksimal komoditas UBC itu diharapkan bisa dipasarkan secara komersial pada 2010.
Nilai kalori
"Keberhasilan proyek di Palimanan ini dapat meningkatkan nilai kalori batu bara dari kurang 5.000 kal/g ditingkatkan menjadi kapasitas 6.200 kal/g hingga 6.800 kal/g," ujar Purnomo.
JCOAL dan Departemen ESDM telah menunjuk Kobe Steel Ltd untuk membangun pabrik UBC itu. Di sisi lain, Satui dipilih sebagai lokasi percontohan mengingat cadangan batu bara peringkat rendah sangat besar di wilayah ini.
Selain itu, PT Arutmin Indonesia sebagai pemegang PKP2B (perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara), bersedia mendukung proyek percontohan tersebut.
Teknologi UBC diharapkan mampu menghasilkan batu bara bersih yang dapat menjaga kestabilan kebutuhan pasokan energi.
Batu bara hasil proses dengan nilai kalori tinggi serta kadar air dan polusi rendah sangat cocok digunakan untuk keperluan dalam dan luar negeri.
Khusus untuk PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) dan industri, penggunaan batu bara UBC itu akan menghemat biaya instalasi peralatan dan pencegah polusi.
Produk batu bara UBC nantinya akan diuji coba dalam bentuk pembakaran dengan menggunakan boiler, baik di Jepang maupun di Indonesia, tepatnya di PLTU Suralaya dan Tarahan.
Oleh Diena Lestari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- EKSPLORASI
PoD Masela disetujui - Distribusi BBM, mau canggih malah buyar
- PLN: Kondisi kelistrikan 2009 lebih baik
- Syarat Natuna segera dibahas lagi
- Pertamina kaji akuisisi Tuban Petro