Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Regional


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 29/08/2008

Pabrik kelapa sawit Sumut tahan stok

MEDAN: Pemilik pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara lebih memilih menahan stok crude palm oil (CPO) sehingga menumpuk di pabrik menyusul rendahnya harga jual minyak sawit mentah sebulan terakhir ini.

Wakil Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumatra Utara (Sumut) Timbas Prasad Ginting mengungkapkan  pabrik kelapa sawit (PKS) pemilik tangki timbun juga melakukan penimbunan di Belawan yang berkapasitas 200.000 ton.

"Ratusan ribu ton CPO menumpuk di tangki timbun di PKS. Pemilik hanya menjual CPO untuk menutupi biaya operasi dan membayar gaji karyawan. Sisanya ditahan menunggu harga naik lagi,'' ujarnya kepada Bisnis di Medan, pekan ini.

Pada lelang CPO di Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PT Perkebunan Nusantara di Jakarta pada 26 Agustus, pembeli hanya berani mengambil CPO dengan harga Rp6.668 per kg (termasuk PPN).

Meskipun pemerintah sudah menurunkan bea keluar CPO dari 15% menjadi 10%, ternyata tidak mampu mendongkrak harga CPO di dalam dan di luar negeri karena pasokan memang lagi berlebih.

Ginting menjelaskan anggota Gapki sudah ada yang melaporkan tangki timbunnya di pabrik kelapa sawit penuh dan terpaksa menjual sebagian untuk biaya operasional dan menggaji karyawan bulan ini.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsjad menegaskan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani anjlok dari Rp2.000 per kg menjadi Rp1.000 per kg akibat kebijakan pemerintah yang tidak pro petani.

"Pemerintah hanya mementingkan uang masuk dari pungutan ekspor atau bea keluar dari CPO dan produk turunannya. Kalau harga TBS turun pemerintah tidak mau tahu,'' katanya.

Dia sangat menyesalkan sikap  pemerintah yang tidak mau peduli terhadap kehidupan petani sawit pada saat  harga  jatuh di bawah Rp1.000 per kg, sedangkan harga pupuk melonjak 300% dari Rp2.000 menjadi Rp8.000 per kg.

Hanya 12,5%


Ketua Umum Apkasindo Sumardi Syarif menegaskan posisi tawar petani sawit sangat lemah, sehingga hanya menerima 12,5% sampai 15% dari harga pasar CPO. Semestinya petani bisa menerima 18% dari harga  pasar.

''Hal ini terjadi karena petani menjual sawit dalam bentuk TBS [tandan buah segar] kepada pedagang pengumpul yang sering menekan harga TBS di tingkat petani.''

Menurut dia, daya tawar petani dari masa ke masa tergantung kepada pedagang pengumpul dan PKS. Petani, tambahnya, tidak memiliki akses untuk mengetahui harga yang wajar TBS-nya dikaitkan dengan harga CPO.

Oleh Master Sihotang
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Puluhan PMA di Sumut ancam hengkang terkait limbah batu bara
  • Pembahasan upah minimum Batam buntu
  • SEPUTAR KOTA
    Pemprov Babel genjot pasar domestik
  • SEPUTAR KOTA
    PLN Medan terus tagih tunggakan