Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Regional


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 20/11/2008

Pengusaha muda di Sumut sulit peroleh dana segar

MEDAN: Sedikitnya 800 pengusaha muda, atau sekitar 40% dari total 2.000 anggota Hipmi Sumatra Utara, mulai mengalami kesulitan likuiditas sebagai akibat dari dampak krisis global.

Said Aldi Al Idrus, Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumut, menyatakan pemerintah harus segera bertindak konkret guan mengatasi situasi tersebut, terutama agar tidak terjadi pemutusan kerja besar-besaran.

"Hipmi Sumut sudah mewanti-wanti pengusaha anggotanya untuk menghindari PHK guna membantu pemerintah menjaga kekondusifan keamanan di Sumut. Tapi faktanya, 40% anggota kami itu memang kesulitan likuiditas," ungkapnya di Medan, kemarin.

Said menjelaskan sekitar 40% dari pengusaha yang kesulitan likuiditas itu merupakan pengusaha nonusaha kecil dan menengah (UKM) dan sekitar 10% atau 80 pengusaha muda anggotanya bergerak di sektor perkebunan.

Dia mengatakan kesulitan yang dihadapi pengusaha muda itu bisa berdampak meluas, terutama terkait dengan PHK jika tidak mendapatkan dukungan kebijakan riil dari pemerintah.

Pemerintah, misalnya, diminta memberikan lebih banyak kemudahan kepada pengusaha, seperti pengurusan perizinan, perolehan dana murah baik melalui pinjaman bank maupun bantuan, serta membantu lobi untuk perluasan pasar dari barang yang diproduksi.

Kian sulit

Menurut dia, jika pemerintah tidak segera mengambil sikap nyata, situasi perekonomian di Sumut tahun depan akan semakin sulit. Hal itu karena adanya prediksi dampak krisis global semakin dirasakan cukup berat mulai Januari 2009.

Hipmi, ujar Said, telah melakukan berbagai cara untuk membantu kesulitan anggotanya, antara lain dengan tetap membantu pengusaha untuk melobi atau pendekatan dengan stake holder lain sehingga dapat memperlancar kelancaran usaha pengusaha muda.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Badan Investasi dan Promosi Sumut Effendy Siahaan sebelumnya mengungkapkan berdasarkan data realisasi investasi di Sumut, jumlah PMA yang sudah mendapat izin usaha tetap hingga September 2008 mencapai 13 bidang usaha.

Sebanyak 13 Bidang usaha tersebut yaitu industri jasa sebanyak lima proyek, industri makanan dua proyek, industri barang logam dua proyek. Industri kayu, perhotelan, perumahan dan industri lain masing-masing satu proyek.

Namun, Effendy tidak memungkiri kemungkinan krisis global itu akan berdampak dan diperkirakan mulai terasa pada 2009, investasi asing dan dalam negeri diperkirakan turun pada beberapa sektor.

Antara

bisnis.com

Berita Lain

  • NUSANTARA
    Proyek ruko berlanjut
  • NUSANTARA
    Stok BBM Sumut diperkuat
  • Ekonomi Batam berpotensi melambat
  • Proyek jalan tol Palembang ditunda