Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 15/05/2008
Mal & toko modern paling boros energi
JAKARTA: Hasil audit Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan mal dan toko modern paling boros menggunakan energi dibandingkan dengan jenis bisnis lainnya.
Kesimpulan tersebut diambil BPPT setelah melakukan audit atas 40 gedung di Provinsi Jawa Barat pada Oktober 2007, untuk membandingkan tingkat penggunaan energi dari berbagai gedung yang berbeda peruntukan
"Mal dan supermarket paling boros energi. Sebenarnya mal bisa melakukan penghematan sehingga 30% dari penggunaan energinya," kata Edi Himawan, Kepala Sub Bidang Analisis dan Optimasi Energi BPPT, kemarin.
Menurut Edi, paling borosnya penggunaan energi di mal dan toko modern (yang diaudit supermarket), dipicu persaingan penyewa yang ingin menarik perhatian konsumen dengan menggencarkan promosi, yang di dukung dengan penerangan lampu.
Di samping itu, borosnya mal dan toko modern juga karena kalangan peritel ingin tokonya lebih terang daripada kompetitor, agar konsumen lebih tertarik untuk mendatangi tempatnya.
BPPT juga mengamati desain sistem pendingin (AC) di dalam mal tidak fokus mendinginkan areal yang digunakan, tetapi juga meliputi areal yang tidak utama.
"Biasanya yang boros energi jika manajemen gedungnya berbeda dengan penggunanya, seperti mal yang menyewakan lahan belanjanya [kepada peritel]," kata Edi.
Karena lahan gedungnya disewakan kepada pihak lain (peritel), menyebabkan pengelola tidak bisa mengendalikan penggunaan energi di dalam gedungnya.
Menurut Edi, gedung mal yang usianya sudah tua diprediksi bisa menghemat energi hingga 30%, sedangkan gedung yang relatif masih baru bisa menekan penggunaan energi sebesar 15%-20%.
BPPT mengimbau agar pengembang menciptakan desain yang memanfaatkan pencahayaan dalam ruang mal dari cahaya alami, sehingga peritel otomatis bisa mengurangi banyaknya lampu yang digunakannya.
"Pengelola mal diharapkan mempertimbangkan aspek cahaya alam, menghindari material yang boros energi, desain berlebihan, ruangan terlalu dingin," kata Edi.
Pada awal Mei, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan pemerintah dalam waktu dekat akan mengeluarkan inpres yang mengatur pengurangan jam buka mal.
Inpres tersebut mengurangi satu jam operasional mal dari biasanya, dan ini dianggap bisa mencukupi dalam penghematan energi.
Menurut Wapres, langkah itu dilakukan untuk melakukan penghematan energi, dan pengawasan pelaksanaannya juga akan dipantau secara ketat.
Pada bulan ini juga, Departemen Perdagangan telah memanggil asosiasi peritel modern dan pengelola mal untuk memberi masukan isi permendag penghematan energi.
Sementara itu, kalangan pengelola mal dan peritel mengusulkan insentif bagi pusat perbelanjaan bisa menghemat energi listrik.
Insentif
Dalam rapat Departemen dengan pengelola mal dan peritel, baru-baru ini mereka menolak rencana perpendekan jam buka pusat perbelanjaan.
Rapat dipimpin Ardiansyah Parman, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, pemerintah baru menampung usulan pengelola mal dan peritel untuk mengubah perpendekan menjadi insentif penghematan energi.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) berkukuh menolak rencana pemerintah untuk memperpendek jam operasi mal.
Ketua Umum APPBI A. Stefanus Ridwan mengemukakan pengelola mal justru mengusulkan penetapan insentif dalam permendag bagi pengelola mal dan peritel yang mampu menghemat energi. (linda.silitonga@bisnis.co.id)
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
Raos Pangan batalkan ekspansi - WIRAUSAHA
55 UKM dilatih perencanaan - Dekopin dorong online koperasi
- Moqodam beri nilai tambah melalui opak
- Program pengembangan Smescomart ditunda