Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 16/05/2008

Tanggung renteng tekan pinjaman bermasalah

JAKARTA: Koperasi serba usaha Setia Budi Wanita (SBW) Malang, Jawa Timur berhasil menekan risiko non performing loan (NPL) dengan menerapkan pola tanggung renteng.

Sekretaris I SBW Herni Yuli Lestari mengatakan keampuhan sistem tanggung renteng dalam pinjaman satu kelompok, karena konsekuensinya akan ditanggung semua anggota jika salah satu dari mereka menyimpang.

"Proses inilah yang mampu mengamankan aset kami karena tingkat pengembalian pinjaman kredit 0%," ujar Herni Yuli pada workshop bertema pendekatan inovatif dalam capacity building keuangan mikro, kemarin.

Acara yang diselenggarakan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) tersebut juga menyongsong kerangka kerja sama Indonesia dengan Uni Eropa dalam program Asia Invest.

Plafon kredit kepada kelompok nasabah 15 orang sampai dengan 30 orang ditetapkan Rp200.000-Rp3 juta. Jangka waktu pinjaman selama tiga bulan dengan bunga 3% per bulan.

Total aset yang dikelola SBW dengan jumlah anggota sekitar 280.000 orang sebesar Rp14 miliar. Setoran atau angsuran yang dikembalikan debitor setiap hari, sedangkan pinjaman tanpa agunan.

Herli mengungkapkan penerapan sistem tanggung renteng memerlukan kedisiplinan anggota, selain memiliki rasa tanggung jawab, percaya diri, dan harga diri.

Inovasi


Adapun pendekatan inovasi yang dilakukan PT Arutmin, perusahaan pertambangan di Kalimantan Selatan, agar pemberdayaan masyarakat tepat sasaran, meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar.

Community Development Superintendent PT Arutmin Salim Basir menjelaskan dalam program CSR yang dijalankan perusahaan mereka yang berkaitan dengan pemberdayaan usaha masyarakat.

Komunitas lokal biasanya bekerja sebagai pencari apa saja. Misalnya pelaku illegal logging, illegal mining serta membuka ladang selalu berpindah-pindah.

"Artinya, mereka bukan masyarakat yang siap menyongsong era industrialisasi," ujar Salim Basir.

PT Artumin mulai 2000-2004 menyalurkan dana bergullir ke koperasi unit desa (KUD) di sekitar lima pertambangan di Senakin, Satui, Batulicin, Asam-asam dan North pulau Laut Coal terminal.

Dana yang disalurkan hingga kini sekitar Rp4,5 miliar. Kepada kelompok petani melalui program aku himung petani banua (aku bangga menjadi petani benua), perusahaan itu telah mengalirkan dana bergulir Rp193 juta.

"Melalui inovasi dan peningkatan kapasitas masyarakat pelaku usaha mikro kecil, usaha pendukung dengan membuka kios tani Agro Buana, omzet mereka saat ini mencapai Rp40 juta per bulan."

Oleh Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    Dwi Karya targetkan laba naik 26,6%
  • Pemodal besar incar bisnis ritel Indonesia
  • UKM Indonesia optimistis bertumbuh
  • Depdag minta syarat SIUP dipermudah