Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 16/05/2008
UKM enggan garap industri biodiesel
JAKARTA: Usaha kecil dan menengah (UKM) enggan membangun industri biodiesel yang ditawarkan BPPT, menyusul peningkatan harga minyak sawit sebagai bahan baku utama.
Badan Pengkajian dan Pe-nerapan Teknologi (BPPT) menawarkan skema pembangunan industri biodiesel hasil kajian kepada 50 UKM tetapi tidak ada satu pun yang menunjukkan respons positif.
"Pada November 2007 kami kumpulkan 50 UKM dari berbagai daerah untuk diberi penjelasan industri biodiesel," ujar Peneliti Senior Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT Imam Paryanto, baru-baru ini.
Setelah itu, dua perusahaan menyatakan minat membangun pabrik biodiesel, tetapi akhirnya mereka membatalkan karena harga minyak sawit mentah terus meninggi.
Semula BPPT berharap UKM yang mempunyai bengkel atau usaha pengelasan, dan pabrik minyak sawit tertarik membangun industri biodiesel skala kecil.
Menurut Imam, harga minyak sawit yang tinggi membuat pabrik biodiesel tidak menarik lagi. Saat BPPT merintis skema produksi biodiesel skala kecil pada 2002-2003, harga minyak sawit baru Rp2.500 per liter.
Adapun saat ini, harga komoditas yang bisa dijadikan bahan baku biodiesel itu mencapai Rp10.000 per liter, terdongkrak lonjakan permintaan dunia. Adapun harga solar saat ini Rp7.000 per liter untuk kalangan industri.
Masalah lain, industri biodiesel tidak bisa langsung menjual secara eceran kepada konsumen untuk bahan bakar minyak kendaraan bermotor, tetapi harus melalui Pertamina dengan harga Rp4.500 per liter.
Selanjutnya Pertamina mencampur solar dengan biodiesel, baru dijual kepada pengguna kendaraan bermotor, padahal, peluang dapat harga jual tinggi hanya bisa dilakukan dengan menjual langsung ke industri.
Berdasarkan kendala bahan baku yang mahal tersebut, BPPT kemudian menawarkan contoh pabrik biodiesel yang berbahan baku minyak goreng bekas (jelantah), yang bisa dibeli dengan harga Rp3.000 per kg.
"UKM berpotensi mendapatkan keuntungan jika membangun pabrik minimal dengan kapasitas 1 ton biodiesel per hari. Harga minyak goreng bekas Rp3.000 per liter dan biaya produksi Rp1.500 per liter, kemudian menjualnya kepada industri dengan harga Rp7.000 per kilogram," kata Imam.
Pengembangan energi alternatif termasuk bahan bakar berbahan baku nabati marak dipengaruhi kenaikan harga minyak fosil di pasar dunia.
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
ICBC: Manfaatkan pasar China - WIRAUSAHA
Kotak antik Mataram diekspor - WIRAUSAHA
Pegadaian salurkan PKBL - WIRAUSAHA
Akses pasar UKM dipacu dengan CSR - Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong