Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 17/07/2008
Menanti kompetisi para kader terbaik Hipmi
Apabila perebutan kursi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2008-2011 disamakan dengan kompetisi sepak bola maka saat ini pertandingan sudah memasuki babak semifinal.
Ada empat semifinalis, yakni Erwin Aksa mewakili kader Hipmi Sulawesi Selatan, Novita Dewi dari DKI Jakarta, Mohammad Ridwan Mustofa dari Jawa Barat dan Bagus Haryo Suseno mewakili Jawa Timur.
Kebetulan, daerah asal mereka masing-masing memiliki tim sepak bola favorit di Liga Indonesia, yakni PSM Makassar, Persija Jakarta, Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.
Keempat pengusaha muda itu akan bersaing memperebutkan tiga tiket formatur pada putaran pertama, untuk bisa dipilih sebagai ketua umum Hipmi pada putaran berikutnya.
Pemilihan ketua umum Hipmi melalui Musayawarah Nasional pada 19-20 Juli akan berlangsung di Bali. Munas akan diikuti perwakilan ke-33 daerah. Setiap daerah mempunyai hak pilih lima suara.
Kesuksesan Hipmi ke depan berada di tangan perwakilan setiap daerah, sedangkan visi dari empat kandidat hampir sama, yakni mengembangkan potensi pengusaha muda.
Erwin Aksa, yang merupakan penerus bisnis keluarga di bawah bendera Bosowa Corporation, menilai yang diperlukan Hipmi ke depan adalah kolaborasi dengan organ di daerah.
Selama tiga bulan terakhir menjelang Munas Hipmi, Wakil Ketua Umum Bidang Luar Negeri Kadin Sulsel ini mengunjungi 25 kota provinsi.
Dia ingin Hipmi mempunyai kekuatan untuk menjembatani kepentingan nasional ke setiap institusi. Untuk mencapai tujuan itu Hipmi harus membangun kekuatan daerah.
Menurut dia, Hipmi sudah mereposisi usaha dari kontraktor ke sektor-sektor lain. "Hipmi harus bisa menyampaikan kritik kepada pemerintah jika ada upaya menghambat pertumbuhan usaha."
Novita Sari merupakan satu-satunya perempuan kandidat orang nomor satu di organisasi yang memiliki 30.000-an anggota itu. Pencalonan kader perempuan sebagai ketua umum ini merupakan kali ketiga.
Dia berjanji akan membawa Hipmi bisa memiliki posisi tawar di tingkat nasional ataupun internasional, jika dirinya terpilih.
Menurut dia, ada tiga keunggulan yang harus dimiliki Hipmi, yakni memperkuat daya saing untuk kesinambungan ekonomi, melahirkan potensi baru pengusaha muda, serta memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah.
"Menjadi ketua umum harus bisa melayani anggota untuk melakukan perubahan. Saya ingin menciptakan era digitalisasi dan memodernisasi pola pikir," ungkap Komisaris Utama PT Arta Widya Agung itu.
Kapal induk
Mohammad Ridwan Mustofa, yang saat ini menjabat Ketua Kompartemen Pengurus Pusat Hipmi, mengusung isu penumbuhan wirausahawan baru sebagai pendorong menuju kursi nomor satu Hipmi.
"Saat ini Indonesia memerlukan 2% wirausahawan untuk bisa membawa keberhasilan negara ini. Kita hanya memiliki 0,2% dari target tersebut. Berarti kita harus menumbuhkan satu juta wirausaha baru seperti target pengurus sebelumnya," kata nakhoda PT Karsa Prima Niaga itu.
Siapa pun yang akan memimpin Hipmi, katanya, tugas akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan tugas pengurus lama. Mengapa demikian? Karena tulang punggung Hipmi sudah terbentuk secara sistematis.
Yang diperlukan saat ini adalah roh-roh baru yang bisa dilahirkan melalui restrukturisasi internal.
Kandidat yang lain adalah Bagus Haryo Suseno, mantan Ketua Umum Hipmi Jawa Timur. Bagus menginginkan Hipmi menjadi wadah pengusaha andal.
Untuk itu Hipmi harus bisa bersikap profesional, termasuk membantu pengusaha kecil dan menengah yang masih perlu pendampingan baik dalam hal menciptakan maupun memasarkan produk.
"Mereka hanya bisa menciptakan produk tanpa bisa menganalisa pasar. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan. Bagi saya jabatan Ketua Umum Hipmi bukan segalanya, tapi amanah," ujar anggota Komite Tetap Pemberdayaan Potensi Ekonomi Daerah Kadin Jawa Timur itu.
Hipmi memang perlu tokoh baru untuk melanjutkan era kepemimpinan Sandiaga Salahuddin Uno. Mereka semua barangkali memang pantas memimpin Hipmi.
Program kerja yang diusung keempat kandidat itu pun tampaknya cukup ideal dan logis, serta dapat diimplementasikan. Namun, semua itu hanya bisa terlaksana jika elemen di Hipmi solid dan dapat saling mendukung.
Kisrus di tubuh BPD Hipmi Jaya harus menjadi pelajaran berharga dan menjadi catatan penting bagi pengurus baru, agar masalah seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari.
Yang penting ketua umum baru, siapa pun yang terpilih nanti, harus bisa menjadi fasilitator untuk menyatukan kembali kelompok-kelompok yang terpecah itu. Satu kesebelasan sepak bola tidak akan mampu mengalahkan lawan kalau di dalam timnya sendiri rapuh. (ginting.munthe@bisnis.co.id/afriyanto@bisnis.co.id)
Oleh Mulia Ginting Munthe & Afriyanto
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
Raos Pangan batalkan ekspansi - WIRAUSAHA
55 UKM dilatih perencanaan - Dekopin dorong online koperasi
- Moqodam beri nilai tambah melalui opak
- Program pengembangan Smescomart ditunda