Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 18/07/2008
Pemodal besar incar bisnis ritel Indonesia
Tampaknya para pemodal tak sekadar melirik pasar ritel di Indonesia. Belakangan ini aksi jual-beli perusahaan ritel marak.
Setelah PT Alfa Retailindo Tbk menyatakan hasrat melego Supermarket Alfa, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk langsung menyambutnya. Namun, Ramayana gagal memiliki peritel yang masuk 10 besar peraih omzet tertinggi di Indonesia itu.
Ramayana resmi menyatakan urung meminang Alfa pada akhir September 2007. Dan, hanya berselang empat bulan, raksasa hipermarket Carrefour sudah berhasil menguasainya.
Penjualan saham juga dilakukan PT Rimo Catur Lestasri Tbk. Dalam tempo tidak terlalu lama, Optima Securities langsung mengambil alih seluruh kepemilikan department store papan atas itu.
Sekarang giliran pusat perkulakan Makro yang akan dijual. Bahkan, penjualan tersebut sudah resmi diumumkan pada 3 Juli 2008. Penjualan PT Makro Indonesia akan dilakukan melalui lelang.
"Kalau lima perusahaan [yang tertarik membeli saham Makro], dipastikan ada," kata Margono, Head of Investor HSBC.
SHV Holding N. V. (pemilik saham terbesar Makro) menunjuk The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Limited sebagai penasihat keuangannya.
Presiden Direktur PT Makro Indonesia Kuswanto Gunadi menuturkan calon pembeli Makro adalah perusahaan besar, di antaranya juga pelaku usaha ritel lokal, perusahaan merek internasional yang beroperasi di Indonesia, dan calon peritel baru.
Walmart, melalui format pusat perkulakan bermerek Sam's Club, disebut-sebut salah satu perusahaan yang mengincar Makro. Perusahaan lainnya adalah Carrefour, Tesco, Casino, dan Super Value.
Mengglobal
Aksi jual-beli peritel menunjukkan dinamika persaingan pasar yang makin mengglobal dan ketat, diiringi dengan peta penguasaan sektor ritel yang terus berubah.
Ini tampak dari manajemen PT Alfa Retailindo yang 'menyerah' untuk menangani toko supermarket dan hipermarket, dan memilih untuk fokus menggarap toko dengan skala lebih kecil. Salah satu pemilik saham Alfa merupakan investor di minimarket Alfamart.
Sementara itu, begitu banyak pelaku usaha toko skala besar dunia yang sukses, dan mereka dibolehkan masuk ke Indonesia dengan modal langsung, sesuai dengan Perpres No. 111/2007.
Investasi langsung 100% yang dibolehkan di antaranya toko modern berformat supermarket dengan luas lahan lebih dari 1.200 m2, dan department store dengan luas lantai penjualan lebih dari 2.000 m2.
Ya, negara dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa ini memang pasar ritel yang menjanjikan. Bahkan, pemodal yang belum pernah menyentuh dunia ini pun ingin menjajalnya.
Tengok saja Optima, yang notabene adalah perusahaan sekuritas yang berani mengambil alih department store Rimo. Bagi perusahaan besar memang bukan hal yang susah membeli suatu perusahaan.
"Karena dia mampu beli manajemen. Tinggal mengambil orang yang sudah berpengalaman dan tangguh, lalu ditempatkan untuk mengurusi tokonya," kata Tutum Rahanta, Ketua Harian Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia).
Tentu saja, mereka akan mengecek terlebih dulu kondisi dan rekam jejak toko yang akan dibelinya, untuk menaksir prospek bisnis. Hanya, dengan perhitungan yang matang dan strategi jitu untung bisa diraup.
Department store besar seperti JC Penney menangguk sukses di AS, tetapi gagal di Indonesia. Hal yang sama dialami Yaohan, peritel asal Jepang, dan Walmart asal Amerika Serikat, yang terpaksa hengkang dari Indonesia.
Modal besar bisa untuk membeli apa saja, tetapi sukses berbisnis tampaknya perlu persyaratan lain. (linda.silitonga@ bisnis.co.id)
Oleh Linda T. Silitonga
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
Alfamart gandeng BRI - WIRAUSAHA
Asephi selenggarakan RIC Expo - WIRAUSAHA
Pemerintah diminta intervensi ritel - Permendag Waralaba akhirnya terbit
- Kinerja perkoperasian Jateng membaik