Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

'Entrepreneur sejati: Gagal 10 kali bangkit 11 kali'

Peran aktif Ciputra dalam lima tahun terakhir untuk mendorong bertambahnya jumlah pengusaha di Indonesia, mengantarkan Sang Pelopor meraih Asia Pacific Entrepreneurship Award 2008 untuk kategori Lifetime Achievement Award.

Dari raut wajahnya jelas terpancar  suka cita. Dengan langkah tegap menaiki podium, menandakan semangatnya memajukan bangsa Indonesia begitu kuat (foto kiri). Penghargaan itu juga seperti  kado di ultahnya yang ke-77, karena Ciputra lahir pada 24 Agustus 1931.

"Menyenangkan. Terimakasih atas apresiasinya. Ini kehormatan yang diberikan kepada saya. Mudah-mudahan  bisa meneruskan kehormatan untuk kepentingan rakyat  Indonesia," kata Ciputra ketika diminta tanggapannya atas keberhasilannya meraih penghargaan bergengsi tersebut.

Masih minimnya jumlah wirausahawan di Indonesia, menggugah pendiri dan Chairperson Ciputra Group tersebut.

Saat ini Indonesia baru memiliki 400.000 pengusaha, padahal Ciputra menilai jumlah entrepreneur yang pantas mencapai 2% dari jumlah penduduk atau 4,4 juta orang.

Minimnya jumlah wirausaha itu pula yang menyebabkan kekayaan alam melimpah milik bangsa Indonesia, tidak dimanfaatkan secara optimal untuk menambah kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

"Seorang entrepreneur bisa mengubah kekayaan alam menjadi barang yang bernilai tambah demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Entrepreneur mampu mengolah kekayaan alam dan mengubah rongsokan menjadi emas," kata pria kelahiran Gorontalo tersebut..

Untuk mendorong tercetaknya pengusaha di Indonesia, Ciputra menerapkan mata ajaran dan kurikulum entrepreneurship di Universtas Ciputra Entrepreneur Center. Dia juga memberikan sejumlah kursus terkait dengan kewirausahawan.

Dia mengakui tidak sulit untuk menjadi pengusaha, tapi melakukannya yang tidak gampang. Untuk menjadi entrepreneur yang andal, setidaknya harus menguasai ilmunya lebih dulu, yang harus diasah mulai dari tingkat sekolah di taman kanak-kanak hingga universitas.

"Saya berharap upaya mencetak entrepreneur menjadi gerakan nasional."

Bisa gagal


Dalam kesempatan penyerahan award yang diserahkan Enterprise Asia pada Senin malam di Hotel Ritz Carlton, Ciputra ternyata sudah menyiapkan sajak di selembar kertas, yang disimpannya dalam dompet.

Ada yang melihat, namun tidak berpikir.

Ada yang berpikir, namun tidak mengerti.

Ada yang mengerti, namun tidak berkesan.

Ada yang berkesan, namun  tidak beraksi.

Ada yang beraksi, namun tidak berentrepreneur.

Ada yang berentrepreneur, namun tidak berhasil.

Entrepreneur sejati gagal 10 kali, namun bangkit 11 kali.

Begitu isi sajak berjudul Sang Entrepreneur yang dibuat sendiri oleh Ciputra.

Ayah empat anak itu seolah-olah ingin menggambarkan masyarakat yang bertekad menjadi pengusaha, agar jangan kapok meraih impinan, jika dalam perjalanan bisnisnya mengalami kegagalan.

Kakek sembilan orang cucu ini  pernah gagal . Namun, memang sukses bisnis yang diraihnya 'menyamarkan' kegagalan itu.

Karya emasnya bertebaran di Indonesia dan luar negeri. Di dalam negeri, prestasinya antara lain mengubah kawasan rawa Ancol menjadi pusat berbagai hiburan dan wisata.

Kompleks perumahan prestisi yang juga mendapat sentuhan tangannya seperti Pondok Indah, Bintaro, Bumi Serpong Damai, dan Citra Raya.

Propertinya juga merambah ke luar negeri seperti Singapura, Kamboja, Vietnam, India, China, Hawai dan sedang mengembangkan bisnis di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Filosofinya, kembali untuk mengubah rongsokan menjadi emas. Artinya mengubah lahan yang tidak produktif menjadi produk properti bernilai tinggi.

Ciputra selalu berulangkali menegaskan tiga L yang membentuk seorang entrepreneur yaitu lahir, lingkungan, dan latihan. Kebanyakan warga Indonesia tidak lahir dari keluarga pengusaha dan tidak tumbuh dalam lingkungan yang mendidik seseorang untuk menjadi wirausaha.

Karena itu harus ada intervensi pendidikan, yang menjadi L ketiga, untuk menggenjot jumlah entrepreneur di Indonesia. Dan Ciputra sudah melakukannya, setidaknya secara intensif dalam lima tahun terakhir ini. (20) (linda. silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah