Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 04/09/2008
MLM asing berpotensi rekayasa mitra lokal
JAKARTA: Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) memprediksi kemunculan mitra lokal rekayasa akibat kesulitan perusahaan asing MLM menggaet mitra bisnis.
Menurut Humas APLI Widarto Wirawan, potensi mitra lokal rekayasa itu terutama untuk MLM asing yang mereknya tidak terkenal atau baru sebatas pemain papan atas serta perusahaan yang baru berkembang di negaranya sendiri.
"Departemen Perdagangan harus mengantisipasi munculnya mitra jadi-jadian. Apalagi menurut kami sleeping partner itu tidak bisa dideteksi" kata Widarto kepada Bisnis, kemarin.
Kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini akan memicu kehati-hatian dan kecurigaan investor lokal saat menerima tawaran bermitra dari pihak asing, terlebih yang belum dikenal sebelumnya. Apalagi membutuhkan modal minimal Rp 2 miliar.
Kesulitan mendapatkan partner lokal akan membuat PMA MLM cenderung asal menunjuk orang yang dikenalnya, untuk mengaku menjadi partner lokalnya, sementara modal seluruhnya dari asing.
Seperti diketahui untuk merangsang masuknya modal asing ke dalam negeri, pemerintah memutuskan untuk melakukan liberalisasi di sektor usaha penjualan langsung (direct selling).
Modal asing maksimal 60% dalam satu perusahaan MLM diperkenankan, sedangkan 40% sisanya disokong oleh mitra lokal. Keputusan ini tertuang dalam Perpres No. 111/2007 tentang Daftar Negatif Investasi.
Permendag No. 32/2008, tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perdagangan Dengan Sistem Penjualan Langsung, memerinci instruksi itu dengan menetapkan perusahaan asing MLM minimal memiliki modal investasi Rp 5 miliar.
Depdag menetapkan sesuai dengan instruksi Perpres No. 111/ 2007, dalam satu PMA MLM di Indonesia, asing paling sedikit harus memiliki modal investasi Rp3 miliar (60% dari Rp5 miliar) sementara mitra lokalnya Rp 2 miliar (40%).
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
ICBC: Manfaatkan pasar China - WIRAUSAHA
Kotak antik Mataram diekspor - WIRAUSAHA
Pegadaian salurkan PKBL - WIRAUSAHA
Akses pasar UKM dipacu dengan CSR - Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong