Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Moqodam beri nilai tambah melalui opak

Mencari makanan ringan, seperti opak tidaklah sulit di kota-kota besar, karena jenis makanan seperti kerupuk yang asal usulnya adalah makanan dari desa ini beredar di pasar tradisional dan swalayan.

Opak terbuat dari ketela pohon dan terkenal karena rasanya yang gurih dan renyah, sehingga pantas menjadi camilan bersama dengan minum teh atau kopi pada sore hari.

Makanan ini juga harus digoreng dalam minyak yang cukup panas dan opak mentah kering akan matang hanya dalam waktu kira-kira tujuh detik, jadi memasaknya pun tidak dapat lama-lama.

Makanan khas dari Jawa Tengah ini banyak diproduksi hingga pelosok perdesaan, bahkan menjadi tumpuan bagi masyarakat yang tanah ladangnya dapat tumbuh subur tanaman singkong atau ketela pohon.

Seperti di wilayah Desa Mojo Tengah, Kecamatan Kalibeber, Kabupaten Wonosobo, yang hampir 100% warganya membuat opak sebagai pekerjaan, selain bertani dan berkebun.

"Kami sangat mudah untuk mendapatkan bahan baku singkong untuk membuat opak, apalagi pembuatannya mudah dan tidak repot bahan campurannya," kata Moqodam, pemilik pabrik opak merek Dua Merpati di Desa Mojo Tengah Kecamatan Kalibeber, baru-baru ini.

Moqodam merintis bisnisnya sejak 1980, dan sekarang mempekerjakan 20 karyawan.

Bahan baku opak hanyalah singkong, bumbu rempah, dan daun kucai - sayuran hijau, mirip daun bawang tetapi kecil seperti rumput yang membuat aroma opak menjadi khas, apalagi setelah matang.

"Kalau mau digoreng, ya tinggal tambah modal minyak goreng ditambah dengan kayu bakar untuk merebus singkong," kata Moqodam menjelaskan.

Pengeringan opak setelah dicetak bulat-bulat hanya mengandalkan sinar matahari, selain alami dan tidak mengeluarkan modal juga akan berpengaruh pada aroma dan rasa dari opak tersebut.

Moqodam bermodal 300 kg singkong setiap harinya untuk menghasilkan 140 kg-150 kg opak kering yang dikemasnya dalam bungkus plastik dengan ukuran 0,5 kg dan 1 kg.

Dengan harga Rp75.000 per kwintal, dia membeli 3 kwintal ketela mentah atau sedikitnya dibutuhkan dana Rp225.000, ditambah dengan bahan baku lainnya dapat terjual opak kering Rp5.000 per 400 gram.

Jika Anda ke Kabupaten Wonosobo, penjual opak ini banyak dijumpai di pinggir Jl Semarang-Puwokerto.

Banyak saingan


Sukses Dua Merpati memicu ratusan warga Kalibeber mengikuti jejak Moqodam membuat opak. Mereka tak sulit memulai usaha itu, karena bahan bakunya mudah diperoleh, cara membuatnya juga tidak sulit.

Akibatnya, persaingan di bisnis opak kian ramai.

Di sisi lain, aturan kemasan opak cukup merepotkan. Dia mencontohkan kemasan opak mentah yang dipasarkan di swalayan berbeda kualitasnya dengan di pasar-pasar tradisional.

Demikian juga untuk opak matang, dapat beragam bentuk, dari yang lebar seperti kerupuk atau ukuran lingkaran kecil yang dirangkai dengan tali bambu. "Kendala saat ini adalah membuat kemasan karena harga plastik meninggi," ujar Moqodam.

Sementara itu, daerah pemasaran opak masih terbatas di Pulau Jawa dan belum terorganisasi untuk masuk pasar ekspor.

Opak memang sudah dibawa sebagai buah tangan warga Indonesia bila ke luar negeri,  tetapi belum menjadi oleh-oleh bagi para wisatawan asing.

Berdasarkan data Kabupaten Wonsobo, produksi ketela pohon per akhir 2007 tercatat 84.820 ton. Pertumbuhan produksi ketela pohon rata-rata 1,42% per tahun. Adapun kebutuhan bahan baku opak naik rata-rata 1% per tahun.

Dengan ketersediaan singkong sebanyak itu, kebutuhan bahan baku opak dapat dengan mudah diperoleh. 

Membuat opak adalah cara Moqodam beserta ratusan warga desanya memberi nilai tambah pada hasil bumi di daerahnya. (rochmad.fitriana@bisnis.co.id)

Oleh R Fitriana
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah