Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 07/10/2008
Pemasok terlambat kirim barang
JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia Indonesia (AP3MI) meminta peritel modern membebaskan pemasok dari denda keterlambatan pengiriman barang (service level), mengingat sampai saat ini baru 40% distributor yang aktif memasok produk.
Ketua Umum AP3MI Susanto memperkirakan distributor yang jumlahnya di Indonesia mencapai lebih dari 6.000 perusahaan, baru seluruhnya akan menjalankan aktivitasnya pada 13 Oktober 2008.
"Aktivitas 6.000 distributor belum bisa pulih seluruhnya. Alasannya di samping ada yang kesulitan mengumpulkan bahan dan pekerja yang mendistribusikan barang [terutama sopir dan kenek] masih banyak yang libur," kata Susanto, kemarin.
Masih banyaknya pekerja yang belum masuk kerja mengingat libur sekolah (SD, SMP, dan SMA) baru akan berakhir pada 13 Oktober, begitu juga aktivitas perguruan tinggi.
Menurut Susanto, toko modern sudah kembali melakukan order barang kepada pemasok atau distributor untuk pengiriman pada tiga dan empat hari setelah Lebaran (5-6 Oktober).
"Distributor saat ini masih kesulitan memenuhi permintaan pengiriman barang ke toko modern, misalnya, seperti pemasok gula merah yang sulit mendapatkan produk karena selama ini dikumpulkan dari sejumlah petani pembuatnya," papar Susanto.
Kerepotan para pemasok atau distributor untuk segera memenuhi permintaan pasokan barang memang selalu terjadi tiap tahunnya sampai tujuh hari setelah Idulfitri.
Namun, untuk tahun masa pemulihan tersebut lebih panjang dari biasanya, karena diprediksi baru pulih pada 12 hari setelah Lebaran.
"Karena itu kami minta pemasok dan distributor untuk periode pemenuhan permintaan pasokan barang tahun ini pascaLebaran, tidak ada yang terkena service level ," kata Susanto.
AP3MI memperkirakan saat ini di Indonesia terdapat 6.000 distributor atau pemasok yang mengirimkan barangnya untuk dijual di jaringan toko modern.
Dari 6.000 distributor itu, 3.000-4.000 di antaranya memasok ke berbagai pulau di Indonesia, sisanya merupakan distributor untuk pasokan di daerah tertentu.
Meski pasokan barang ke toko modern belum pulih sampai 13 Oktober, Susanto meyakini tidak akan berdampak pada konsumen. Hal ini mengingat kebiasaan konsumen untuk segera menggantikan merek dari produk sejenis, jika barang yang dicari tidak ada di gerai.
Produk makanan
Sementara itu, stok produk yang saat ini sudah berkurang umumnya berupa makanan dan minuman, seperti biskuit dan air mineral.
Susanto meyakini toko modern tidak akan menaikkan harga barang, mengingat peritel mendapatkan harga dari pemasok sebelum ada kenaikan harga barang menjelang Lebaran.
Sebelumnya Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) mengimbau toko modern agar meningkatkan stok makanan dan minuman lima kali lipat dari biasanya, menyusul panjangnya masa libur industri dan distributor.
Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan mengatakan toko modern biasanya melakukan stok untuk penjualan satu minggu.
Industri dan sebagian besar distributor sudah libur mulai 25 September sehingga toko modern harus menyetok untuk dua minggu, 25 September-6 Oktober.
"Dalam satu minggunya membutuhkan stok 2,5 kali lipat dari minggu biasanya," kata Thomas [25 September].
Berdasarkan penelitian Nielsen Indonesia, selama Ramadan produk yang banyak mengalami lonjakan penjualan adalah margarin, minyak goreng, susu kental manis, susu cair, keju, yoghurt, sirup, biskuit, obat maag, es krim, teh, permen, dan cokelat. (linda.silitonga@bisnis.co.id)
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
ICBC: Manfaatkan pasar China - WIRAUSAHA
Kotak antik Mataram diekspor - WIRAUSAHA
Pegadaian salurkan PKBL - WIRAUSAHA
Akses pasar UKM dipacu dengan CSR - Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong