Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 07/10/2008

Implikasi konsumen bermemori jangka pendek

Dua kasus terkuak menjelang Lebaran, yaitu produk kedaluarsa di gerai modern dan terdeteksinya produk susu bermelamin pada biskuit dan kembang gula serta susu yang beredar di Indonesia. Ini membuat konsumen mau tidak mau menjadi waspada.

Apalagi dua kasus tersebut ditemukan pada pebisnis yang menyandang nama besar, baik gerai modern tempat ditemukannya produk kedaluarsa. Begitu juga merek produk bergengsi seperti Oreo, dan M&M'S yang mengandung susu bermelamin asal China.

Beberapa pemilik produk yang terkait dengan masalah tersebut berupaya keras meyakinkan konsumennya, bahwa tidak semua produk menjadi 'tertuduh'. Produk bersusu bermelamin cuma ada pada segelintir produk, misalnya.

Siapa tidak khawatir? Begitu kasus terkuak, langsung menimbulkan was-was bagi konsumen. Tanggal kedaluarsa di setiap produk menjadi bergitu penting untuk diperhatikan, sebelum membeli sesuatu.

Merek produk bersusu melamin yang  cuma ditemukan pada segelintir produk juga menyebabkan konsumen menjadi ragu. Peritel sekalipun mengambil tindakan yang menurut mereka aman, yaitu tidak menjual semua produk dari merek yang terseret kasus susu bermelamin pada rak toko.

Jangka pendek

Namun Handi Irawan D, Chairman Frontier  Consulting Group meyakini semua kasus tersebut akan segera dilupakan konsumen. Ini karena konsumen di Indonesia mempunyai memori jangka pendek. Masalah kedaluarsa dan produk susu bermelamin akan segera terlupakan.

Tidak percaya? Lakukan saja uji memori atas kasus terkait dengan makanan yang menghebohkan selama ini. Mampukah memori mengungkap dengan cepat empat  kasus terakhir?

Yang tercetus langsung, paling produk kedaluarsa dan susu bermelamin yang menghebohkan selama Ramadan 2008. Kasus formalin pada ikan yang diawetkan serta pada tahu juga masih bisa diingat. Tapi apa lagi kasus yang lain? Mampukah memori dengan cepat terbuka dan membeberkannya?

Setidaknya semua itu menguatkan kesimpulan Handi Irawan atas satu dari 10 karakter unik konsumen Indonesia, yaitu memiliki memori jangka pendek.

Sembilan lainnya konsumen Indonesia suka produk buatan luar negeri, rendah kesadaran terhadap lingkungan, tidak memiliki perencanaan, suka berkumpul, gagap teknologi, mengutamakan context bukan content,  beragama dan suka supranatural, pamer dan gengsi, kekuatan sub-culture.

Tidak perlu mengulas kejadian heboh yang sudah lama terjadi, soal formalin yang menghebohkan sebelum ditemukannya susu bermelamin juga seakan terlupakan. Tidak ada lagi, misalnya, kekhawatiran untuk menyantap ikan asin atau tahu.

Temuan produk susu bermelamin juga diyakini tidak akan berdampak pada omzet makanan. Produsen terkait memang diprediksi penjualannya anjlok 70%-80%, tapi itu cuma sampai 1- 2 minggu.

"Dalam 3 bulan ke depan, bisnis akan pulih dengan kembali membangun image," kata Handi.

Ada empat penyebab konsumen Indonesia memiliki memori jangka pendek.

Pertama, proses pembelanjaran yang sederhana.

Kedua, pemerintah, media, dan regulasi.

Ketiga, tingkat edukasi.

Keempat, sistem reward dan punishment (penghargaan dan hukuman).

Memori jangka pendek berimplikasi strategis pada bisnis di Indonesia. Strategi bisnis yang cocok dengan karakter konsumen dengan memori jangka pendek adalah mengejar benefit (manfaat) jangka pendek, dan mengatasi problem.

Tapi haruskah memori pendek yang berdampak pada tingkat kewaspadaan konsumen yang 'hangat-hangat tahi ayam'  itu dibiarkan terus seperti itu?

Tentu saja ini PR pemerintah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya makanan yang aman dan sehat. Jika kepedulian sudah terbentuk, produsen dan pebisnis pun otomatis menyesuaikannya.

Dengan demikian, konsumen Indonesia mendapat jaminan akan produk yang dibelinya adalah sehat. Bukan malah membiarkan mereka memburu produk yang termurah, tetapi akhirnya menjadi momok kesehatan pada kemudian hari.

Sudah saatnya prilaku konsumen di negara maju, yang peduli makanan sehat dan lingkungan juga ditularkan kepada masyarakat Indonesia. Jadi bukan cuma bicara soal liberalisasi dunia usaha. (linda.silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah