Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 09/10/2008

'Kehadiran Lotte berpotensi gencet supermarket'

JAKARTA: Nielsen Indonesia memperkirakan pertumbuhan supermarket akan makin tergencet dengan kehadiran raksasa hipermarket asal Korea Selatan Lotte Group di Indonesia.

Yongky Surya Susilo, Direktur Riteler dan Pengembangan Bisnis Nielsen Indonesia, mengatakan saat ini supermarket terus berkurang kontribusinya terhadap total omzet ritel kebutuhan sehari-hari di dalam negeri.

"Tren kontribusi supermarket berkurang 0,5% per tahun dalam 10 tahun terakhir ini terhadap total omzet kebutuhan sehari-hari secara nasional. Dengan adanya Lotte, konsep supermarket akan makin terimpit," kata Yongky kepada Bisnis, kemarin.

Saat ini ada tiga merek hipermarket yang beroperasi di Indonesia yaitu Hypermart (39 toko), Carrefour (41 toko ditambah 29 gerai setelah mengakuisisi Alfa), dan Giant (22 toko).

Menurut dia, peritel supermarket berjaringan harus cepat belajar strategi bisnis, agar bisnisnya mampu bersaing. Saat ini tiga supermarket dalam negeri yang memiliki banyak adalah Yogya, Ramayana, dan Matahari. 

Dengan masuknya toko skala besar seperti hipermarket membuat konsep supermarket menjadi kuno. Meskipun penampilannya sama-sama sebagai gerai yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, manajemen hipermarket dan supermarket sangat berbeda.

Pertama, hipermarket berbeda dalam manajemen logistik karena menyediakan jumlah barang sampai lima kali lipat lebih banyak dari supermarket. Hipermarket menjual 30.000-50.000 jenis barang, sedangkan supermarket 12.000 jenis produk.

Kedua, program pemasaran juga agresif, karena peritel harus mampu menyedot ribuan pengunjung datang ke satu toko per harinya, sementara target di supermarket cuma untuk kunjungan ratusan konsumen.

Ketiga, peritelnya harus mampu melakukan ekspansi gerai secara cepat untuk mencapai skala ekonomi. Dengan begitu modal peritel harus kuat untuk bisa bersaing di format hipermarket.

"Karena berbeda, hipermarket lokal sekali pun harus merekrut ekspatriat untuk menjalankan manajemennya" kata Yongky.

Meski begitu, Yongky optimistis peritel lokal yang memiliki jaringan supermaket bisa belajar teknik menjalankan hipermarket , seperti halnya Matahari yang memiliki 39 Hypermart.

Memang ada yang kalah bersaing. Pemain lokal PT Alfa Retailindo Tbk yang semula fokus menjalankan supermarket Alfa kemudian melebarkan sayap hipermarket Alfa Gudang Rabat, tetapi akhirnya menutup toko skala besarnya dan menjual 75% sahamnya ke PT Carrefour Indonesia.

"Ada juga peritel yang karena memiliki lahan besar di wilayah Tasikmalaya membuat hipermarket, tapi belum jalan," kata Yongky.

Menyempit

Dalam kesempatan terpisah Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) A. Stefanus Ridwan S mengungkapkan saat ini ada tren peritel supermarket, yang membuka gerainya di pusat belanja, mengecilkan luas tokonya.

Stefanus mengatakan yang saat ini masih mampu untuk menyewa lahan belanja cukup besar, hanya untuk supermarket berkonsep baru misalnya dengan melengkapinya dengan restoran.

"Peritel supermarket yang semula menyewa lahan 3.000 m2 di dalam mal, sekarang ini hanya minta disediakan toko dengan luas 2.000 m2," kata Stefanus.  (linda.silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah