Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

'Perubahan Makro tak pengaruhi omzet pemasok'

JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) menilai omzet pemasok tidak akan terpengaruh jika Lotte Group mengubah pusat perkulakan Makro menjadi hipermarket.

Ketua Umum AP3MI Susanto mengatakan umumnya pasokan ke hipermarket dan pusat perkulakan selama ini jumlahnya sama, meski pusat perkulakan menjual barang secara grosir kepada konsumen.

"Sama saja pasokan ke perkulakan dengan hipermarket, malah kalau di pusat perkulakan merepotkan kami karena harus mengikat sedikitnya dua barang menjadi satu [karena pusat perkulakan menjual sebagian besar barangnya harus berjumlah lebih dari satu]," kata Susanto kepada Bisnis, kemarin.

Sementara itu, harga pembelian barang di pusat perkulakan dan hipermarket tidak berbeda. Akibatnya justru ongkos pemasok umumnya lebih besar untuk memasok ke pusat perkulakan, karena kewajiban mengikat sedikitnya dua barang menjadi satu.

"Sering ongkos untuk mengikat barang itu lebih tinggi daripada [selisih harga yang diterima konsumen, karena dengan membeli barang secara grosir membayar] lebih murah," jelas Susanto.

Saat ini peritel di Indonesia yang mengoperasikan format pusat perkulakan adalah Makro dan Indo Grosir, sedangkan Goro sudah tutup.

Terkait dengan telah diketahuinya pembeli Makro, Su-santo mengharapkan ada pembicaraan dengan Makro untuk menjelaskan kepada pemasok sehingga situasi bisnis menjadi kondusif.

Seperti diketahui perusahaan asal Korsel Lotte Group akan membeli seluruh saham PT Makro Indonesia. Belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak Lotte, apakah perusahaan asal Korsel  itu mempertahankan 19 gerai Makro sebagai pusat perkulakan atau menggantikannya dengan format yang lain.

Mengingat di  Korsel Lotte Group memiliki perusahaan ritel multiformat di bawah bendera Lotte Shopping yang memiliki gerai hipermarket Lotte Mart, supermarket Lotte Super, dan department store Lotte.

Dari rilis Makro menjelaskan Lotte Group akan mengambil alih gedung, tanah, kontrak sewa, karyawan dan inventaris Makro Indonesia sebagai satu paket yang menyeluruh.

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah