Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 15/10/2008

Saung Udjo pacu ekspor angklung

BANDUNG: PT Saung Angklung Udjo (SAU) menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi Perajin Angklung Indonesia untuk menggenjot produksi karena permintaan ekspor angklung yang meningkat.

Pariaman Sinaga, Asisten Deputi Urusan Bidang Penelitian Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengungkapkan jumlah angklung dari Jabar yang diekspor meningkat dari sebelumnya 17.000 unit per bulan menjadi 19.000 unit.

"Satu kelompok perajin angklung yang terdiri dari empat orang mampu mendapatkan penghasilan Rp16 juta per bulan, ini menandakan sektor usaha berbasis budaya ini berpotensi besar," katanya kemarin.

Melalui nota kesepahaman kali ini diharapkan ada kemitraan yang mengikat antara pemerintah daerah [dinas], perajin, dan Saung Angklung Udjo untuk terus melanjutkan eksistensi angklung.

Ahmad Rosidi, Ketua Asosiasi Perajin Angklung Indonesia mengatakan untuk meningkatkan produksi, anggotanya yang saat ini berjumlah 70 perajin masih kesulitan mendapatkan bahan baku bambu.

Selama ini perajin mendapatkan bahan baku bambu dari wilayah Sukabumi, kemudian diperluas hingga ke beberapa wilayah lainnya di Jabar seperti Kadipaten Kabupaten Majalengka dan Kuningan.

"Permintaan memang tinggi, khususnya dari pasar ekspor, namun kami juga terkendala dengan bahan bakunya. Satu minggu, kami hanya mampu memproduksi 200 hingga 300 angklung saja," ujarnya.

Perajin yang menjadi anggota asosiasi memasok angklung yang telah diproduksinya ke PT SAU untuk kemudian dipasarkan ke luar negeri, antara lain Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Belanda, Jerman, Swiss, Afrika Selatan, dan Argentina.

"MoU ini juga menuntut kami untuk memproduksi angklung sebanyak-banyaknya, mengingat peminat angklung ini semakin meluas," katanya.

Taufik Hidayat Udjo, Dirut PT SAU, mengatakan diperlukan adanya standardisasi mutu baku alat musik angklung serta pola kemitraan yang jelas sehingga dapat menghasilkan produk jadi angklung yang berkualitas dan berdaya saing.

Menurut dia, beberapa waktu lalu Wagub Jabar Dede Yusuf menginginkan pola kemitraan antara perajin dan PT SAU yang lebih difokuskan kepada nilai tambah produk angklung. Nilai tambah tersebut, harus segera diurus hak ciptanya. (k38)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRAUSAHA
    PKPS-BBM dorong koperasi
  • WIRAUSAHA
    Cinde pasok Carrefour Lebak Bulus
  • Ventura Award diharapkan pacu PPU naik kelas
  • Proses pendirian koperasi dipermudah