Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 16/10/2008
Penjualan produk bermerek diprediksi turun 20%
JAKARTA: Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) memprediksi kemerosotan penjualan produk impor bermerek di Indonesia 20%-30%, menyusul seretnya pasokan akibat kebijakan industrinya mengurangi produksi.
Menurut Ketua APGAI Suryadi Sasmita, penurunan tersebut juga dipicu perilaku masyarakat yang mengerem konsumsi, dan cenderung untuk tidak membelanjakan uangnya apalagi membeli produk mewah.
"Penjualan merek asing di Indonesia akan melemah 20%-30%, akibat terseret fenomena krisis global," kata Suryadi, kemarin.
Sementara itu, peritel barang bermerek di Indonesia diprediksi berupaya mempertahankan harga, meski kurs dolar AS atas rupiah masih bergejolak.
Suryadi mengatakan konsolidasi dan efisiensi perusahaan di luar negeri terutama di AS menyebabkan produksi barang bermerek lebih selektif. Pengurangan produksi juga terkait dengan anjloknya penjualan di AS.
Konsumen di AS saat ini umumnya memangkas anggaran belanja pakaian dan aksesori hingga separuhnya. Berkurangnya belanja konsumtif tersebut juga bisa dirasakan dengan menurunnya permintaan ekspor pakaian dan aksesori dari Indonesia ke AS sebesar 20%-50%.
"Industri produk bermerek juga akan mengurangi produksinya, sehingga pasokan mereka ke berbagai negara juga tidak akan semudah sebelum terjadi krisis global," kata Suryadi.
Dari pengamatan APGAI saat ini produk impor menguasai 30% pasar pakaian jadi dan aksesori di Indonesia, sedangkan 70%-nya disabet merek produk lokal. Dari 30% pangsa merek impor itu, sebanyak 20%-30% di antaranya hasil penjualan pakaian dan aksesori AS.
Ketua Komite Tetap Pengembangan dan Pemasaran Produk Kamar Dagang dan industri (Kadin) Indonesia Thomas Darmawan memperkirakan kalangan menengah atas juga akan memangkas belanjanya, pascakrisis global.
"Nilai saham yang dimiliki kalangan ekonomi menengah dan atas turun, maka banyak orang [menengah atas] 'lebih miskin' dan mereka akan menurunkan bujet belanjanya," kata Thomas.
Thomas memperkirakan merosotnya belanja kalangan menegah ke atas akibat dampak krisis global akan berlangsung sampai tahun depan.
Pengembangan desain
Kementerian Negara Koperasi dan UKM bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) meningkatkan daya saing produk mode usaha kecil menengah melalui fasilitasi pengembangan desain.
Ikhwan Asrin, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengatakan fasilitasi pengembangan desain mencakup 14 sektor industri kreatif.
"Tetapi saat ini peningkatan lebih difokuskan pada empat subsektor, yakni produk mode, kriya, home furnishing dan produk makanan," kata Ikhwan seusai membuka pelatihan terhadap 30 KUKM dari berbagai daerah di Smesco Promotion Center, kemarin.
Empat subsektor tersebut dinilai paling banyak melibatkan koperasi dan UKM. Berdasarkan data Departemen Perdagangan (2007), industri mode merupakan penyumbang PDB terbesar dibandingkan dengan 13 sektor lain.
Fasilitas pengembangan desain ini diberikan pemerintah karena perkembangan dunia mode sangat dinamis, sehingga produknya harus mampu mengikuti selera pasar sekaligus memberi layanan kepada konsumen.
Ketua Penyelenggara pelatihan Prijadi Atmadja mengemukakan untuk sementara ini baru 30 pelaku usaha yang ditingkatkan daya saingnya, sejalan dengan rencana pemerintah agar sasaran tepat guna. (linda.silitonga@bisnis.co.id/ ginting.munthe@bisnis.co.id)
Oleh Linda T. Silitonga & Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- WIRAUSAHA
ICBC: Manfaatkan pasar China - WIRAUSAHA
Kotak antik Mataram diekspor - WIRAUSAHA
Pegadaian salurkan PKBL - WIRAUSAHA
Akses pasar UKM dipacu dengan CSR - Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong