Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ritel dan UKM & Mikro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 21/11/2008

Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong

JAKARTA: Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memperkirakan peritel modern akan marak melakukan program diskon di gerainya sampai akhir tahun, sebagai langkah awal produsen menurunkan harga pasca merosotnya nilai komoditas dunia.

Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aksi borong, mengingat sebagian produsen sudah merencanakan akan menurunkan harga jual produknya pada Januari 2009.

"Tidak usaha borong, karena memang akan ada harga baru mulai Januari 2009. Sekarang ini saja sebagian produsen sudah ada yang menetapkan harga baru, dan peritel tahu itu, lalu mereka melakukan diskon," ujar Thomas, kemarin.

Masa transisi untuk melakukan penurunan harga, kata dia, sekaligus dimanfaatkan peritel modern dan pemasok untuk melakukan promosi, apalagi saat daya beli yang menurun akibat kekhawatiran dari dampak krisis ekonomi global. Peritel di berbagai negara saat ini juga melakukan obral untuk mendongkrak omzet.

Program potongan harga tersebut sekaligus memanfaatkan masa akan tutup tahun. Karena biasanya pebisnis berupaya menggenjot penjualannya pada akhir tahun dan menghabiskan stok, agar penutupan tahunan laporan penjualannya menjadi tinggi angkanya.

"Jadi seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya pada November dan Desember itu masa melakukan diskon untuk menyokong laporan kinerja akhir tahun," kata Thomas.

Turun harga

Menurut dia, seharusnya harga sejumlah barang sudah turun, karena anjloknya harga komoditas yang menjadi bahan bakunya besarannya signifikan. Komoditas yang anjlok harganya seperti CPO dan gandum turun lebih dari 50%.

Sementara itu, harga susu bubuk dan kedelai turun 40%, jagung turun 30%-40%, biji kopi harganya merosot lebih dari 20%, dan sejumlah komoditas lain.

Namun, produsen berupaya menahannya, mengingat stok barang masih ada yang dibuat dengan bahan baku saat harganya melambung. Begitu juga dengan peritel modern yang telah membeli dari pemasok saat produk harganya melambung, terutama pada Juni-Juli 2008.

Di samping itu, produsen juga menahan turunnya harga jual produk karena ada kekhawatiran dampak dari menguatnya nilai tukar dolar AS atas rupiah dalam 3 bulan terakhir ini.

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • WIRA USAHA
    Koperasi etalase dirintis
  • WIRA USAHA
    Industri kreatif didorong
  • Matahari raih omzet tertinggi
  • Puskud Jatim jamin distribusi pupuk lebih baik