Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 14/12/2007
Tak perlu nisan buat koran
Beberapa hari menjelang perhelatan kantor berita sedunia yang digelar di Jakarta pekan ini, Direktur Utama Antara Muchlis Yusuf yang menjadi tuan rumah perhelatan itu, mengajak tukar pikiran sejumlah pimpinan redaksi media massa Jakarta.
MY, begitu dia memperkenalkan sapaan akrabnya, mempertegas visi Antara untuk menjadikan kantor berita Indonesia itu-yang baru saja berganti logo-sebagai entitas media yang bergerak penuh ke bisnis multimedia.
Antara menyadari persaingan yang kian ketat. Jika 70 tahun lalu kantor berita yang didirikan Adam Malik itu tak punya kompetitor, kini dia tidak lagi sendirian. Selain penetrasi kantor berita asing, saat ini beberapa kelompok media juga memiliki jaringan berita mandiri yang 'memangsa' pasar Antara. Belum lagi perkembangan 'kantor berita' yang lebih berbasis Internet seperti Detik.com yang begitu populer saat ini sebagai market leader di segmennya.
"Kami harus mengikuti era industri media yang semakin berkonvergensi ini," kata MY seraya menekankan strategi lembaga itu untuk memasuki bisnis content serta mengembangkan media baru yakni radio dan televisi.
Bukan latah, tapi tren
Bukan lantaran latah kalau orang bicara multimedia. Setahun lalu, dalam sebuah seminar di Jakarta, Hari Tanoesudibyo juga menuturkan strategi mengembangkan Media Nusantara Citra (MNC).
Hari Tanoe, begitu boss MNC itu biasa disapa, bahkan membeberkan begitu rupa strategi pengembangan dengan backbone media televisinya (RCTI, TPI, Global TV dll), radio (Trijaya FM dll), media cetak (koran Seputar Indonesia dan sejumlah tabloid) serta-kala itu-rencana mengembangkan portal yang akan menyaingi detik.com. Lalu lahirlah Okezone, yang paralel dengan penawaran saham perdana (initial public offering) MNC di lantai bursa.
Lama sebelum MNC berkembang, Group Jawa Pos telah membangun jaringan koran daerah di hampir seluruh kota di Indonesia, selain televisi lokal, radio dan Internet.
Di bawah kendali Dahlan Iskan, Jawa Pos kini telah memiliki lebih dari 100 media daerah, yang didukung JPNN (Jawa Pos News Network), model yang menjadi 'pesaing' Antara meski untuk kelompok sendiri.
Paralel dengan kiprah kelompok Jawa Pos, Kelompok Kompas Gramedia (KKG)-kelompok penerbitan terbesar di Indonesia-juga gencar mengembangkan media dalam berbagai format dan platform, dari majalah, tabloid, hingga koran lokal (persda-pers daerah) dan koran bisnis (Kontan), dengan backbone harian Kompas dengan ikon Jacob Oetama.
KKG juga memiliki basis online yang kuat dengan Kompas Cyber Media (KCM), bahkan sempat membangun stasiun televisi (TV-7) yang kemudian bermitra strategis dengan Trans Corp milik Chaerul Tandjung. TV-7 kemudian bersinergi dengan Trans-TV, dan berganti nama menjadi Trans-7.
Masih banyak lagi kelompok media yang berjalan seirama, seperti Media Indonesia yang memiliki Lampung Pos dan Metro-TV, dan kelompok Lippo yang mengembangkan media cetak (melalui Globe Media Group: majalah Globe Asia, koran Investor Daily dan Suara Pembaruan). Sebelumnya, Grup Lippo mengembangkan bisnis TV berbayar (KabelVision). Baru-baru ini Grup Lippo mengembangkan layanan multimedia dengan brand FirstMedia.
Koran yang sedang Anda baca ini juga berkembang menjadi kelompok penerbitan dengan backbone koran bisnis (Bisnis Indonesia) dan sejumlah koran lainnya (Solopos, Monitor Depok, Indonesia ShangBao), radio dan Internet (bisnis.com) yang dengan cepat berkembang menjadi sebuah portal informasi bisnis terbesar di Tanah Air.
Ringkasnya, media cetak beramai-ramai ekspansi secara lebih terintegrasi.
Berebut kue
Sejumlah gambaran itu memperlihatkan bahwa geliat industri media begitu semarak. Meski begitu cukup sulit memperoleh angka pasti nilai bisnis industri media di Indonesia.
Data Dewan Pers menyebutkan saat ini lebih dari 830 media cetak sebagai dampak dari liberalisasi pers 1999 silam. Masalahnya mereka berebut kue iklan serta sirkulasi. Mengutip data Nielsen-Media Research, belanja iklan media tahun lalu mencapai Rp30 triliun, yang dihitung berdasarkan rate card (tarif resmi ). Angka itu didasarkan pada survei atas 97 koran, 182 majalah dan tabloid, 11 TV nasional dan tujuh TV lokal.
Sekitar Rp20 triliun atau dua pertiga dari total estimasi belanja iklan itu diserap oleh televisi, sedangkan koran hanya menyerap Rp8,5 triliun, yang mengalami kenaikan 23% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun jika diasumsikan diskon besar hingga 50%, belanja iklan media 2006 hanya mencapai Rp15 triliun, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 20% per tahun.
Tren belanja iklan media di Indonesia ini agaknya berbeda dengan tren dunia, dimana media cetak dan televisi hampir berimbang. Menurut data World Association of Newspaper (WAN), belanja iklan media global tahun ini (US$247 miliar) sebagian besar diserap Direct Mail (24,9%), televisi (19,2%) dan koran (18,5%) (lihat ilustrasi).
Akan tetapi dari sisi sirkulasi, hampir tidak ada pertumbuhan berarti sirkulasi media cetak nasional. Beberapa koran yang segmented--termasuk pada segmen informasi bisnis-memang dapat mempertahankan sirkulasinya, tetapi pertumbuhan tiras sangat lambat dan cenderung sensitif dengan persoalan delivery, keagenan dan hambatan distribusi lainnya.
Data Dewan Pers sendiri menggambarkan, selama 10 tahun terakhir, readerships atau jumlah pembaca (satu koran bisa dibaca oleh tiga hingga lima orang) tak lebih dari 10 juta. Artinya, dengan jumlah penduduk yang saat ini ditaksir mencapai 230 juta jiwa, readerships Indonesia tak lebih dari 5% populasi.
Level readerships ini jauh di bawah negara maju yang berada di kisaran 30%-40%, paling apes adalah 25%. Bahkan dibandingkan dengan India, yang sama-sama negara berkembang-cenderung miskin-perkembangan keterbacaan media cetak di Indonesia jauh tertinggal.
Di India, readerships-nya mencapai 220 juta, atau 22% dari penduduk India sekitar 1 miliar. Perkembangan media di India memang begitu pesat didorong oleh pertumbuhan ekonomi di atas 9% per tahun. Media cetak di India saat ini sudah lebih dari 53.000 koran dan 7.218 majalah. Nilai bisnis industri media di India malah sudah mencapai US$10,6 miliar pada 2006 (termasuk pendapatan iklan, sirkulasi dan konten) dengan pertumbuhan mencapai 26% per tahun. Angka yang jauh di atas Indonesia.
Siapa kompetitor koran?
Namun, di tengah halangan pertumbuhan readerships, kompetitor koran sebenarnya adalah media baru yang kini tumbuh pesat. Menurut riset Wilberg Management di AS, kompetitor koran tradisional adalah Internet, koran gratis, mobile, portal lokal dan media portabel.
Riset itu menyebutkan, pesaing terberat koran tradisional, yakni Internet, secara umum pertumbuhannya melambat tahun ini menjadi 71% dari tahun lalu72%, sedangkan koran gratis juga tumbuh melambat dari hampir 80% tahun lalu menjadi sekitar 68% tahun ini.
Berita Lain
- PORTOFOLIO
Depresiasi yen dongkrak karet - PORTOFOLIO
Stimulus untungkan tembaga - PORTOFOLIO
Minyak belum tembus US$50 - BBJ cabut keanggotaan 13 perusahaan
- Komoditas tambang dekati normal
Meski harga turun, produsen masih untung