Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 16/05/2008
Kenaikan harga properti tidak terelakkan
JAKARTA: Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan melonjaknya harga minyak dunia dipastikan memengaruhi penyerapan beberapa produk properti tahun ini.
Turunnya daya beli masyarakat dan naiknya harga produk diperkirakan berpengaruh signifikan pada penyerapan properti khususnya sektor ritel, kondominium, dan landed houses (perumahan horizontal).
Utami Prastiana, Senior Manager PT Procon Indah, menyatakan lonjakan harga minyak dunia dan kenaikan harga BBM mengakibatkan pembengkakan biaya konstruksi yang dibebankan kepada konsumen.
"Yang kena pertama kali karena kenaikan harga minyak dan BBM adalah sektor ritel, kondominium, dan perumahan horizontal karena berhubungan langsung dengan end user [pengguna akhir]. Tapi kami masih mengalkulasi besarannya," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Dihubungi terpisah, Henry Lukito pengembang Permata Hijau Residences dan Bukit Mediterania Samarinda berencana menaikkan lagi harga propertinya.
Melihat rendahnya daya beli masyarakat, pihaknya hanya akan menaikkan harga jual di bawah 10% kendati kalkulasi kenaikan ideal 30%.
Sejak November 2007 anggota grup Agung Podomoro ini telah menaikkan harga jual produknya 10%-15%. Menyikapi kenaikan bahan industri yang merangkak naik sejak November 2007, seperti besi yang dari Rp3.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.
CEO PT Karunia Abadi Sejahtera dan PT Cahaya Mitra Sejahtera ini mengkhawatirkan minimnya penyerapan produk di pasar apabila menaikkan harga kembali. Kenaikan harga jual sebelumnya mengakibatkan pembeli kedua proyek properti Henry berkurang 20%.
"Kami menaikkan harga juga melihat kemampuan konsumen, tapi pada posisi sekarang kami juga terjepit. Potensi turunnya penyerapan pasar memang besar, tapi kalau tidak dinaikkan pendapatan kami berkurang," jelas Henry.
Sementara itu, Utami menjelaskan ada beberapa sektor properti yang penyerapannya tetap akan bertahan stabil. Khususnya sektor properti yang disewakan seperti gedung perkantoran.
"Yang cenderung bertahan itu produk-produk yang disewakan seperti perkantoran dan apartemen sewa. Tapi BBM naik otomatis biaya operasional gedung akan naik dan pengaruhnya ke service charge [biaya pelayanan]," tutur Utami.
Service charge
Direktur PT First Jakarta International (FJI) Alwie Handoyo selaku pengelola gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan berencana menaikkan service charge sekitar 10%-15%. Sementara pihaknya membuka opsi menaikkan sewa gedung 10% menyesuaikan permintaan dan penawaran pasar, selain kenaikan harga BBM.
"FJI akan menaikkan service charge sesuai dengan besaran pemakaian energi, karena kami juga memakai genset yang berbahan bakar solar untuk listrik selain memakai listrik PLN. Kenaikan BBM otomatis ada inflasi, sehingga menaikkan gaji pegawai dan hal pendukung lainnya yang kami tutup dari service charge."
Saat ini FJI mematok biaya service charge ruang perkantoran berlantai 31 tersebut US$6,5 per m2, sedangkan harga sewa ruangnya rata-rata US$15 per m2, dengan luas ruang yang disewakan 135.000 m2.
"Dari sejarah yang sudah-sudah, pada saat kami menaikkan service charge dan harga sewa penyewa ruang kami menerimanya. Saat ini tingkat okupansi kami 94%." (08) (redaksi@ bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Dubai tak henti mencakar langit
- Berlomba menjadi yang tertinggi di dunia
- PILAR
10% Proyek PU belum dilelang - PILAR
Resettlement Minarak dinilai positif - Aturan utang PDAM siap terbit