Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 17/05/2008

Indonesia yang masih jauh dari radar

Bukan perkara mudah untuk bisa masuk dalam radar investasi orang-orang super kaya dunia. Mereka paham betul cara jitu untuk mengembangbiakkan uang. Saat memilih produk properti, mereka punya sederet persyaratan utama yang harus terpenuhi. Tidak ada tawar menawar. Bagaimana dengan Indonesia?

Sudah banyak analisis mengenai prospek properti di Indonesia. Bahkan, tidak sedikit pengamat maupun pelaku di industri properti yang menyebutkan imbal hasil (yield) properti di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura.

Imbal hasil yang diharapkan orang-orang super kaya dunia (high net worth individual/HNWI) dari produk properti yang mereka beli diperkirakan sebesar 7% hingga 12% untuk tahun ini. Target itu turun dibandingkan realisasi yield pada tahun lalu yang mencapai 8% hingga 15%.

Banyak yang menyebutkan yield properti di Indonesia berada di atas dua digit. Melihat tingginya imbal hasil itu, Indonesia seharusnya masuk dalam radar. Namun, yield saja belum cukup. Orang-orang super kaya punya sederet syarat mutlak lain dalam memilih produk properti yang akan mereka beli.

Aksesibilitas merupakan syarat utama dalam pemilihan lokasi produk properti. Bagi orang-orang kaya itu, kemudahan akses dari tempat tinggal ke lokasi kerja atau tempat bersantai mereka, termasuk ke bandara internasional, merupakan hal penting yang harus diperhatikan.

Stabilitas ekonomi dan politik suatu negara, serta keamanan proyek properti itu sendiri, menjadi syarat berikutnya. Penurunan pembelian properti di AS pasca tragedi 11 September 2001 di World Trade Center, merupakan satu contoh pentingnya stabilitas.

Dalam memilih lokasi properti, individu super kaya ternyata tidak menyampingkan faktor kedekatan kultur. "Ini mengarah pada faktor kedekatan individual, seperti kedekatan bahasa, budaya, maupun tradisi," ujar Fakky Ismail Hidayat, Senior Associate Director PT Wilson Properti Advisindo, pemegang lisensi Knight Frank di Indonesia.

Faktor penentu utama lainnya adalah ketersediaan fasilitas pendidikan, terutama bagi individu yang memiliki anak usia sekolah. Universitas di Inggris, AS, dan Eropa merupakan target keluarga kaya untuk anak-anak mereka. Namun, popularitas institusi pendidikan di belahan barat bumi saat ini sudah mendapatkan persaingan dari Timur Tengah dan Asia.

Menghitung peluang


Willson Kalip, President Director PT Willson Properti Advisindo, pemegang lisensi Knight Frank di Indonesia, menyebutkan pusat finansial global menjadi salah satu daya tarik bagi investor properti.

"AS dan Dubai menjadi incaran HNWI [orang kaya] karena keduanya berfungsi sebagai pusat finansial. Jakarta [pusat finansialnya] sudah bagus, tapi belum masuk dalam tahap global," ujarnya.

Pembeli properti berkelas dunia juga akan melihat daerah sekitar properti yang akan mereka beli, hingga arsitekturnya. Sistem perpajakan menjadi faktor penentu lainnya. Pengenaan pajak pada pembeli dan penjual properti di Indonesia membuat keuntungan (capital gain) investor tergerus.

"Malaysia sudah tax friendly. Mereka juga punya program second home [rumah kedua] bagi orang asing. Kalau kita [Indonesia], masalah kepemilikan asing saja masih dibatasi, jadi bagaimana kita bisa bicara tentang pajak dan imigrasi," ujar Willson.

Dia menyebutkan peraturan mengenai kepemilikan asing atas properti di Indonesia merupakan salah satu penyebab Indonesia masih jauh dari radar orang-orang super kaya dunia.

Karut marut masalah infrastruktur, menurut Willson, bukan jadi masalah utama untuk menggenjot nilai properti di Indonesia. "Kondisi infrastruktur di Bangkok tidak terlalu jauh berbeda dengan kita, tapi harga properti mereka hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kita," katanya.

Fakky menambahkan Indonesia setidaknya bisa menjadi 'rumah kedua' bagi para orang kaya dari China. Negara itu dinilai punya kedekatan sejarah dengan Indonesia.

Indonesia, menurutnya, masih punya peluang untuk masuk dalam radar orang-orang super kaya dunia. Peluang yang mungkin masih harus dihitung berulang-ulang. (yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)

Oleh Yeni H. Simanjuntak
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 'Mengerem KPR tindakan keliru'
  • PILAR
    Investasi Cybercity Rp2,36 triliun
  • PILAR
    Pembebasan lahan pakai konsinyasi
  • Pengembang Surabaya gencar tawarkan pembiayaan in house