Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 04/10/2008

7 Proyek tol dikategorikan kritis

JAKARTA: Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menilai tujuh ruas proyek tol dengan nilai investasi Rp28,74 triliun masuk dalam kategori kritis karena mengalami berbagai kendala mulai dari masalah internal perusahaan, kesulitan pembebasan tanah, hingga masalah pendanaan.

Kepala BPJT Nurdin Manurung mengatakan sudah mengevaluasi 23 ruas kontrak perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) pada pertengahan September lalu. Dari jumlah itu, tujuh ruas dinilai kritis, lima ruas dalam tahapan konstruksi, sembilan ruas dalam proses pembebasan tanah, dan dua ruas sudah diputus kontraknya.

"Setelah dievaluasi, ada tujuh proyek tol yang kami anggap kritis," katanya belum lama ini.

Dalam evaluasi Departemen Pekerjaan Umum per 15 Mei 2008, dari 23 ruas yang sudah kontrak, badan pengatur itu belum memasukkan tujuh ruas tersebut ke dalam kategori kritis karena masih menunjukkan kinerjanya meskipun lambat.

Nurdin mengatakan dalam perkembangan tiga bulan kemudian, sejumlah investor ada yang kesulitan pendanaan hingga mengalami masalah internal perusahaan sehingga proyeknya terbengkalai.

Proyek yang masuk kategori kritis di antaranya ruas Surabaya-Mojokerto sepanjang 37 km yang dikelola oleh PT Marga Nujyasumo Agung. Proyek ini sudah masuk tahapan konstruksi, tetapi kemudian terhenti karena masalah internal perusahaan. Pemegang konsesi kemudian berencana menjual sebagian sahamnya kepada PT Jasa Marga Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk.

Rencana penjualan saham kepada kedua BUMN itu membuat proses konstruksi dan pembebasan tanah terhenti sehingga seluruh agenda yang sudah ditetapkan dalam perjanjian dipastikan molor.

"Masalahnya berlarut-larut. Hingga kini belum ada penyelesaian secara resmi meskipun sedang ditangani. Jadi, kami anggap kritis, karena jadwal konstruksi jadi mundur," katanya.

Proyek lain yang bermasalah adalah ruas Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Depok-Antasari, Waru-Tanjung Perak, Ciawi-Sukabumi, Bogor Ring Road, dan Pasuruan-Probolinggo.

Ruas Ciawi-Sukabumi habis masa perjanjiannya pada 7 Juli 2008, tetapi hingga kini investor tidak menepati kewajiban penyetoran jaminan pembiayaan.

Masa perjanjian jalan tol Waru-Tanjung Perak juga telah habis pada 27 Juli dan belum ada kepastian penyelesaian. Ruas Pasuruan-Probolinggo sudah habis pada 25 Juni. Kendati sudah mendapatkan mitra strategis untuk pendanaan, tetapi hingga kini belum ada perkembangan pekerjaan di lapangan.

Penyelamatan

Sebagian proyek juga sedang diupayakan penyelesaiannya tetapi tetap belum melakukan pekerjaan di lapangan sehingga masuk dalam golongan kritis.

Nurdin mengatakan Departemen Pekerjaan Umum sedang menyusun strategi untuk menolong proyek yang sekarat itu. Investor yang kesulitan pendanaan akan dicarikan mitra strategis sebelum diputus kontraknya.

Untuk proyek tol yang menghadapi kesulitan pengadaan lahan, akan dibentuk panitia pembebasan tanah yang lebih solid untuk percepatan.

"Kalau masih ada napasnya, kami akan beri kesempatan dahulu. Namun, kalau sudah tidak ada harapan lebih baik dibunuh [diputus kontraknya]."

Departemen PU juga akan membebaskan investor jalan tol dari beban biaya jaminan pembebasan tanah untuk mempercepat pembangunan, menyusul disetujuinya dana talangan Rp1,4 triliun. (20)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot