Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 06/10/2008
Pengembang keluhkan rencana pembatasan kredit perbankan
JAKARTA: Kalangan pengembang mengeluhkan rencana perbankan yang membatasi kucuran kredit, karena akan menghambat pertumbuhan sektor properti di tengah berbagai tekanan yang dihadapi developer.
Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), mengatakan perbankan mulai memperketat pengucuran kredit properti baik untuk keperluan bisnis maupun untuk kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA).
"Perbankan sudah mulai memperlambat pengucuran kreditnya. Ini bahaya jika terus dibiarkan. Banyak pengembang skala menengah ke bawah akan terpukul karena pengembang kelas ini sebagian besar mengandalkan kredit bank untuk modal kerja," katanya baru-baru ini.
Bank Indonesia baru-baru ini meminta kalangan perbankan untuk menahan laju kredit terutama sektor konsumsi, mengingat pertumbuhan kredit tahunan hingga akhir September mencapai 36%.
Bank sentral meminta kalangan perbankan memerhatikan likuiditas yang ketat di tengah krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat. (Bisnis, 25 September)
Fuad mengemukakan perlambatan pengucuran kredit sudah dirasakan pengembang sejak awal September saat memasuki bulan puasa. Pengembang khawatir kondisi ini akan berlangsung lama karena belum ada tanda-tanda akan ada perubahan.
"Lebih baik bunga KPR yang naik, tetapi dana masih ada, bisnis masih bisa jalan. Kalau dananya tidak ada, selesai bisnis kami. Itu celaka, karena bisnis sama sekali tidak akan jalan," ujarnya.
Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria mengatakan sudah mendapatkan laporan dan keluhan dari sejumlah pengembang di daerah yang kesulitan memproses KPR.
Sebagian besar pengajuan KPR dari calon konsumen perumahan yang diajukan sejak awal September lalu belum disetujui.
"Teman-teman di daerah sudah telepon saya sebelum Lebaran. Mereka heran, kok KPR-nya jadi dipersulit. Setelah saya cek ke perbankan ternyata ada rencana kenaikan suku bunga lagi ditambah imbauan dari bank sentral untuk mempertahankan likuiditasnya," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Berdampak ganda
Teguh berharap perbankan tetap mengucurkan KPR bagi calon konsumen yang sudah dalam proses pengajuan. Perbankan juga diminta tetap mengucurkan KPR.
Penghentian dan perlambatan kucuran KPR akan berdampak ganda terhadap konsumen ataupun pengembang. "Efek psikologisnya besar," katanya.
Teguh juga meminta perbankan tetap menyalurkan kredit konstruksi untuk keperluan bisnis pengembang karena ini bukan sektor konsumtif. Pembangunan proyek perumahan akan melibatkan unit bisnis yang banyak mulai dari sektor perdagangan, jasa, dan transportasi.
Pelambatan kredit dan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir ini sudah mengganggu kinerja pertumbuhan sektor properti. Tetapi, DPP REI belum menghitung potensi penurunan bisnis dan kinerjanya tahun ini akibat masalah ini.
Direktur Pemasaran Agung Podomoro Group Indra Wijaya Antono mengatakan perlambatan kinerja di sektor properti akan terasa pada semester kedua tahun depan.
Berbagai tekanan yang terjadi mulai dari penurunan daya beli, kenaikan bahan bangunan, kenaikan bunga KPR dan KPA, hingga agenda pemilu akan mengganggu pertumbuan industri properti.
"Dampaknya akan terasa tahun depan. Tetapi kami akan tetap mencari celah karena properti merupakan bisnis inti kami," katanya. (20/zufrizal) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PILAR
Jalan di Jabar naik status - PILAR
PDAM usulkan tarif naik - PILAR
Program perumahan tetap jalan - Agung Podomoro siapkan investasi Rp800 miliar
- Investor tol lambat beraksi