Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 08/10/2008
Kontraktor berhati-hati sikapi penawaran tender
JAKARTA: Kalangan kontraktor akan lebih berhati-hati dalam menyikapi penawaran tender proyek infrastruktur yang menggunakan dana APBN 2009.
Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi risiko kerugian di tengah fluktuasi harga bahan baku dan tekanan ekonomi global.
Wakil Ketua Bidang II Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Zali Yahya mengatakan beberapa harga bahan bangunan masih berpotensi berfluktuasi cukup tinggi, terutama aspal, bahan bakar minyak, untuk industri, dan semen.
Harga besi pada tahun depan diperkirakan lebih stabil karena permintaan dari pasar dunia akan menurun.
Pasokan aspal dari dalam negeri pada tahun depan akan terhambat karena PT Pertamina berencana mengurangi produksinya.
Harga aspal akan dipengaruhi oleh pasokan impor yang tidak menentu. Harga BBM industri juga masih berpotensi naik turun, sedangkan harga semen diperkirakan merangkak naik tipis.
"Pemborong akan lebih berhati-hati dan mencermati tender yang ditawarkan pemerintah di tengah situasi ekonomi seperti ini. Proyek jalan yang menggunakan bahan baku aspal lebih berisiko tinggi, karena pasokan dari dalam negeri akan berkurang," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Departemen Pekerjaan Umum akan mempercepat penawaran tender proyek infrastruktur yang menggunakan APBN 2009 pada November tahun ini.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh satuan kerja di departemen itu untuk mulai menyusun dokumen teknis agar tender bisa diumumkan kepada kontraktor pada November 2008, sehingga kontrak bisa ditandatangani pada Januari 2009.
Zali mengatakan percepatan penawaran tender yang dilakukan Departemen PU itu sangat bagus agar proyek pekerjaan bisa dilakukan secara merata sepanjang tahun.
Meskipun demikian, lanjut Zali, ketidakpastian kondisi ekonomi pada tahun depan cukup tinggi, sehingga perlu perhitungan yang cermat dalam memilih dan menawar tender proyek infrastruktur.
Tiga faktor
Menurut Wakil Ketua AKI itu, ada tiga faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan industri konstruksi dan pekerjaan proyek pada tahun depan, yaitu perlambatan pengucuran kredit perbankan, fluktuasi harga bahan baku, dan krisis ekonomi global.
"Pemerintah saja memprediksi dampak krisis itu akan terjadi dalam enam bulan hingga setahun mendatang. Berarti masih akan terjadi ketidakpastian yang perlu dicermati kontraktor," ujarnya.
Dalam kondisi ekonomi seperti itu, kata Zali, pemborong biasanya menyiapkan dua sampai tiga skenario dalam mengerjakan proyek infrastruktur.
Pemerintah harus melakukan intervensi kebijakan terhadap pemborong untuk mengurangi ketidakpastian usaha yang dipengaruhi faktor eksternal tadi.
Intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan merevisi Keputusan Presiden No. 80/2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.
Pemerintah harus segera merevisi pasal mengenai kondisi kahar atau force majeure agar tidak memberatkan pengusaha.
"Kami harap aturannya diperbaiki. Faktor-faktor eksternal yang sulit diprediksi harus ditanggung bersama antara pemerintah dan pengusaha agar kontraktor lebih berani mengerjakan proyek," katanya.
Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia Sumaryanto Widayatin mengatakan revisi Keppres No. 80/2003 sedang dibahas tim kecil antara Departemen PU dan Departemen Keuangan.
Proyek tahun tunggal akan memperoleh penyesuaian harga jika terjadi kondisi ekonomi yang di luar kendali pemerintah.
"Kami akan berjuang agar proyek yang menggunakan APBN 2009 memperoleh penyesuaian harga secara otomatis jika terjadi lonjakan harga bahan baku. Draf revisinya sedang disusun," katanya. (20) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PILAR
Jalan di Jabar naik status - PILAR
PDAM usulkan tarif naik - PILAR
Program perumahan tetap jalan - Agung Podomoro siapkan investasi Rp800 miliar
- Investor tol lambat beraksi