Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

Krisis finansial mulai sergap pengembang

SURABAYA: Pengembang di Surabaya menilai krisis finansial yang mulai terasa di Indonesia dapat berdampak buruk bagi bisnis properti, terutama setelah suku bunga terus dikerek semakin tinggi.

Dirut PT Suryainti Permata Tbk Henry J. Gunawan mengatakan bisnis properti sangat dipengaruhi kebijakan suku bunga bank, kendati situasi sekarang mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat.

Menurut dia, upaya pemerintah mengatasi krisis dengan melakukan buyback saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) dapat menjadi sejarah rebound yang sangat baik.

"Peran pemerintah sangat penting dengan memasok dana guna merealisasikan upaya buyback. Namun, perlu disadari upaya itu tergolong berat untuk direalisasikan," kata Henry kemarin.

Peran pemerintah menjaga likuiditas dan suku bunga sehingga investor tetap memiliki kepercayaan, kata Henry, sangat dibutuhkan kalangan pengembang agar konsumen tetap mampu menyerap properti yang ditawarkan.

Menurut dia, masyarakat banyak menahan diri membeli properti saat ini sebab beban bunganya memberatkan.

Lebih selektif

BNI Wilayah 06 Jatim membenarkan menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama kredit konsumtif, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), guna menyiasati situasi keuangan global saat ini.

Rudhyanto Mooduto, Pemimpin Wilayah BNI 06, mengatakan untuk KPR [kredit kepemilikan rumah] ataupun kendaraan, BNI benar-benar memilah-milah, terutama dari sisi harga properti tersebut.

Adapun kredit korporasi, lanjutnya, tetap dikucurkan khususnya bagi kalangan usaha yang memang benar-benar prioritas, yaitu yang dinilai cukup prospektif dan membutuhkan likuditas secara cepat. (k14/Marlina A. Jobs)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot