Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 15/11/2008

Kredit seret, proyek mandek

Selain dipusingkan penjualan yang turun akibat suku bunga kredit kepemilikan properti (KPR) yang tinggi, pengembang harus menghadapi proyek mereka yang berpotensi terhenti atau mandek. Semuanya lagi-lagi karena perbankan yang mengerem laju kredit.

Di tengah harga bahan bangunan yang cenderung turun pada saat ini, pengembang tetap saja sulit untuk melanjutkan proyek mereka karena bank juga ogah mengucurkan kredit konstruksi. Pengembang seperti terjepit dari dua arah. Penjualan hancur, proyek tak jalan karena kredit tidak mengucur.

"Bank hanya mau membiayai proyek yang konstruksinya sudah di atas 60%. Kalau di bawah itu, kreditnya dipersulit sehingga proyek terancam tertunda. Apalagi untuk proyek baru, akan semakin susah," kata Renny Soviahani, Direktur Pengembangan Bisnis PT Adhi Realty yang menggarap sejumlah proyek perumahan dan ruko di Jakarta dan sekitarnya.

Renny menambahkan pihaknya akan menghentikan dulu proyek klaster perumahan baru hingga batas yang belum ditentukan. Pembangunan perumahan baru akan dilakukan setelah konsumen memperoleh persetujuan KPR secara resmi.

"Perbankan juga begitu, kredit diperketat sampai batas waktu yang belum ditentukan," jelasnya.

Padahal, apabila pengembang memiliki modal sendiri, saat ini sebenarnya momentum bagus untuk melakukan konstruksi. Sejumlah harga material turun 20%-25% dalam sebulan terakhir. Tren penurunan harga material diperkirakan berlanjut seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia dan merosotnya permintaan.

"Kalau pengembangnya pintar dan berani, penurunan harga bahan bangunan sekarang bisa membantu meringankan beban pengembang," kata Lucy Rumantir, Chairman PT Jones Lang LaSalle Indonesia, perusahaan konsultan properti.

Di beberapa kota di Jawa Barat, pengembang yang menggarap hunian kelas menengah yang dipadukan dengan rumah sederhana sehat (RSh) mulai menggeser proyeknya ke rumah subsidi.

"Pengembang di Bandung, Bogor, Garut, biasanya mempunyai beberapa tipe perumahan, ada kelas menengah, ada RSh-nya juga. Kalau kondisinya seperti ini, mereka fokus menggarap RSh dahulu. Rumah kelas menengahnya disetop sementara," jelas Fery Sandhyana, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Appersi) Jawa Barat.

Rumah sederhana memang tidak terkena imbas kenaikan KPR karena selisih bunganya disubsidi oleh pemerintah. Menurut Fery, pengembang di Jabar membangun RSh digabungkan dengan kelas menengah karena pasarnya masih beragam.

Penjualan menurun

Penjualan hunian konvensional sebenarnya sudah mulai turun sejak triwulan III tahun ini. Survei PT Procon Indah, perusahaan konsultan properti, menyebutkan penjualan rumah di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) sepanjang triwulan III/2008 turun 18% menjadi 1.433 unit per bulan dibandingkan dengan triwulan II/2008 sebanyak 1.760 unit per bulan.

Survei itu dilakukan terhadap 44 lokasi kawasan perumahan besar di Jabotabek. Penurunan penjualan rumah itu hampir terjadi di semua daerah, kecuali Jakarta. Bogor mencatat tingkat penjualan tertinggi sebesar 517 unit per bulan pada periode itu.

Kompleks perumahan Citra Indah mencatat tingkat penyerapan penjualan tertinggi pada triwulan III/2008 dengan penjualan paling menonjol adalah klaster Bukit Angsana. Klaster ini ditawarkan untuk konsumen kelas menengah ke bawah.

Total pasokan rumah yang ditawarkan pada triwulan III/2008 sebanyak 337.858 unit atau naik tipis dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 336.489 unit.

Dalam 3 bulan terakhir tahun ini, Procon mencatat masih ada pasokan perumahan baru, meskipun sangat minim. Hunian baru paling banyak diperkirakan berasal dari Harvest City di Bogor seluas 1.050 hektare.

Tambahan pasokan baru dari perumahan yang sudah ada diperkirakan minim. Hanya terdapat lima kawasan perumahan yang sudah memberikan konfirmasi untuk peluncuran klaster baru, yaitu BSD City, Alam Sutera, Summarecon Serpong, Grand Wisata, dan Summarecon Kelapa Gading. Total kapasitas yang masuk pasar akhir tahun ini sekitar 700 unit.

Data BCI Asia Indonesia berbicara lain. Lembaga riset dan survei sektor konstruksi, menyebutkan lebih dari 20 proyek hunian baru siap dikembangkan di sejumlah kota dengan nilai setiap proyek berkisar dari US$1,1 juta hingga US$4,9 juta. Proyek perumahan itu tersebar di sejumlah daerah di antaranya di Malang, Manado, Sidoarjo, Batam, Palembang, Aceh Utara, dan Padang. (redaksi@bisnis.co.id)

Oleh A. Dadan Muhanda
Kontributor Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot