Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 21/11/2008

Bank diminta kucurkan kredit perumahan

JAKARTA: DPP REI akan mengirim surat kepada Bank Indonesia agar perbankan nasional tetap memprioritaskan kredit pemilikan rumah (KPR) dalam portofolio bisnisnya mengingat sebagian besar pembelian perumahan menggunakan kredit.

Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria mengatakan asosiasi itu sudah berkirim surat dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyampaikan permasalahan di sektor properti sehari sebelum Kepala Negara melawat ke luar negeri.

"Surat ke Presiden sudah disampaikan. Kami juga akan kirim surat resmi ke Bank Indonesia, karena kondisi sektor properti saat ini sudah sangat menyulitkan," katanya kemarin.

Teguh mengatakan penyaluran KPR dari perbankan dalam 2 bulan terakhir sudah turun sekitar 40%-50%. Bahkan, ada perbankan yang terang-terangan tidak akan menyalurkan dahulu KPR-nya karena tengah kesulitan likuiditas.

Dia mengatakan kredit pemilikan rumah itu bukan merupakan kredit konsumtif karena proses pembangunannya melibatkan banyak sektor usaha.

Selain itu, proyek konstruksi perumahan atau gedung bertingkat sebagian besar mengandalkan bahan baku produk dalam negeri, sehingga KPR harus tetap menjadi prioritas bagi perbankan.

"Kami minta Bank Indonesia mewajibkan perbankan tetap memberikan porsi yang cukup untuk KPR, karena KPR itu merupakan darah bagi industri properti."

Menurut Teguh, saat ini perbankan mulai mempersulit pengucuran KPR, mulai dari menaikkan uang muka menjadi 20%-40% dari semula 10%, hingga persyaratan administrasi yang lebih ketat.

Kenaikan bunga kredit sebenarnya masih bisa diantisipasi dengan memberikan subsidi selisih bunga. "Tetapi kalau KPR-nya tidak ada, kami tidak bisa bekerja."

Ketua REI DKI Setyo Maharso mengatakan industri properti membutuhkan suku bunga di level 12% untuk bisa tumbuh dengan mempertimbangkan daya akses pasar terhadap skema pembiayaan.

Bukan hanya soal kebijakan bunga kredit, menurut dia, saat ini ada kesan perbankan membatasi pengucuran kredit di berbagai sektor, termasuk properti. (20/Irsad Sati) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot