Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 22/11/2008

Ramai-ramai bergeser ke timur

Hingga beberapa tahun terakhir, pembangunan Kota Bandung hanya terpusat di kawasan Bandung tengah, utara, dan barat. Belakangan, Pemerintah Kota Bandung berkomitmen membangun infrastruktur dan pusat bisnis di bagian timur kota tersebut. Hasilnya, bisnis perumahan pun ikut tumbuh bak jamur di musim hujan.

Padahal bisnis perumahan di Bandung selama ini hanya terkonsentrasi di bagian utara, selatan, dan barat kota itu. Pada periode 1995-2000, pengembang nasional dan lokal banyak menggarap sejumlah perumahan mewah di Bandung utara sekitar Lembang, Ciumbuleit dan Dago.

Bandung utara diminati pengembang ataupun konsumen karena suasana alam yang indah menjadi daya tarik, sama halnya seperti perumahan di kawasan Puncak Bogor.

Namun, langkah itu terbentur masalah lingkungan, karena kawasan Bandung utara dinyatakan sebagai kawasan konservasi. Bisnis perumahan di utara Bandung ini pun sempat stagnan. Pengembang kemudian mulai mencari beberapa alternatif lokasi, dengan bergeser ke barat dan selatan.

Di daerah barat, pembangunan perumahan menyebar ke kota satelit Cimahi hingga Padalarang. Proyek perumahan di barat tumbuh cepat karena infrastruktur ke lokasi ini relatif lebih baik.

Beragam tipe perumahan di kawasan barat dibangun, mulai dari rumah sederhana sehat (RSh), menengah, hingga perumahan mewah di Bumi Parahyangan yang mengusung konsep kota mandiri.

Setelah Pemkot Bandung mencanangkan akan membangun proyek infrastruktur di Bandung timur selama 2004-2013, pengembang seakan memperoleh angin segar baru.

Lokasi di Bandung timur yang masih terbuka, ditunjang oleh jarak ke pusat kota yang tidak terlalu jauh, mendorong pengembang berbondong-bondong membangun proyek perumahan di timur.

Berdasarkan catatan Bisnis, proyek perumahan skala besar yang sedang digarap adalah perumahan Adipura dengan total luas area 120 hektare.

Bumi Adipura menawarkan beberapa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa tipe rumah mulai dari tipe 36/84 sampai dengan ruko tipe 210/300.

Kawasan pemukiman lain yang sedang naik daun adalah Buah Batu Regency. Berlokasi di Jalan Terusan Buah Batu Soekarno Hatta, proyek ini berdiri di atas lahan seluas 15 hektare. Sejumlah proyek perumahan skala kecil lainnya juga banyak dikembangkan oleh pengembang lokal.

Wali Kota Bandung Dada Rosada menyatakan wilayah yang akan diprioritaskan untuk pembangunan Bandung timur di antaranya Gedebage, Soekarno-Hatta, Ujung Berung, dan Buah Batu.

Agar investor tertarik menanamkan modalnya, pengembangan Bandung timur akan distimulus dengan rencana Pemkot Bandung membangun sarana olahraga terpadu di kawasan Gedebage.

Rencana pembangunan jalan tol Gedebage-Ujung berung yang akan terkoneksi dengan jalan tol Pasteur dan Padalarang-Cileunyi membuat pengembang semakin yakin dengan kawasan timur Bandung.

Pemkot Bandung juga berkomitmen membangun akses jalan, terminal terpadu, rumah pemotongan hewan, hingga penampungan air dalam bentuk danau.

Komitmen pemerintah

Hari Raharta Sudrajat, Ketua DPD Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), menyebutkan pengembangan properti secara tidak langsung memang akan bergerak ke arah Bandung timur.

Ada atau tidak komitmen pemerintah, Bandung timur memang tujuan berikutnya bagi ekspansi pengembang di Jabar.

Apalagi, harga tanah di Bandung tengah dan Bandung barat sudah sangat tinggi sehingga sulit dijangkau oleh para pengembang yang memiliki dana terbatas.

Dia mencontohkan tiga apartemen bersubsidi yang rencananya dibangun pengembang terletak di kawasan ini, yaitu kawasan Buah Batu dan Soekarno-Hatta. Harga tanah di kawasan itu, menurut Hari, memang masih layak dibandingkan dengan upaya membangun apartemen bersubsidi di kawasan Bandung tengah atau barat.

Tak hanya pengembang lokal, pengembang nasional juga mulai mencium potensi bisnis di Bandung. PT Titan Sakti, yang selama ini banyak menggarap proyek rumah sederhana sehat (RSh) dan rumah untuk konsumen kelas menengah di Jakarta dan sekitarnya, juga menyatakan niatnya akan menggarap proyek residensial perumahan dan rusunami di kawasan Soekarno-Hatta.

Fuad Zakaria, Presiden Komisaris PT Titian Sakti, mengatakan sudah menguasai lahan 7,5 hektare. Sekitar 5 hektare dari lahan itu akan dibagun untuk klaster perumahan dan sisanya 2,5 hektare untuk tiga menara rusunami.

"Pasar di Bandung sangat terbuka, rusunami bisa ditujukan untuk mahasiswa karena di Bandung banyak perguruan tinggi. Kebutuhan rumah juga masih sangat tinggi," kata Fuad yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi).

Hari menambahkan pembangunan rumah vertikal pun akan terus marak di kawasan timur, sama halnya dengan pembangunan RSh dan rumah untuk kelas menengah.

Namun, ke kawasan mana pun pembangunan di Kota Bandung diprioritaskan, seharusnya tetap ada ketentuan hitam di atas putih. Harus ada kejelasan mengenai ruang mana saja yang boleh dan yang tidak boleh dibangun.

"Sebelum terlambat, Pemkot Bandung harus mengeluarkan paket kebijakan tata ruang, agar pembangunan perumahan di Bandung bisa terkendali dan tidak tumbuh liar," ujar Hari. (hilman.hidayat@bisnis.co.id)

Oleh A. Dadan Muhanda, Sirojul Muttaqien & Hilman Hidayat
Kontributor Bisnis Indonesia & Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot