Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Sup. Properti


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 24/11/2008

Pengembang siasati pendanaan proyek

JAKARTA: Beberapa pengembang mulai mencari sumber pembiayaan alternatif, karena sulitnya mendapatkan kredit konstruksi dari perbankan.

Pendanaan alternatif itu mulai dari optimalisasi dana internal hingga kemitraan dengan investor strategis.

Handaka Santosa, Presdir PT Tiara Metropolitan, anak perusahaan Agung Podomoro Group, mengatakan pengembang cenderung menggunakan pendanaan alternatif agar proyek tetap jalan untuk memenuhi komitmen kepada pasar.

"Bagi beberapa pengembang, dana bank cuma jadi bridging saat cashflow seret. Kalau sudah ada lagi dana bank dibayar lagi. Jadi proyek tetap jalan dengan risiko seminimal mungkin," ungkapnya pekan lalu.

Dia mengakui pendanaan proyek properti saat ini memang berat. Akan tetapi, bagi pengembang yang punya fokus bisnis di bidang properti akan berjuang sekuat tenaga agar proyek tetap jalan. Mereka akan berjuang mati-matian menjaga reputasi agar tidak cacat di pasar.

Dirut PT Bakrieland Development Group Hiramsyah S. Thaib mengatakan reputasi pengembang menjadi salah satu penentu dalam kesuksesan meraup pembiayaan di pasar.

Untuk developer yang punya reputasi baik dalam pengembangan proyek dan rekam jejak mengelola kredit tidak terlalu sulit mendapatkan pembiayaan. "Kami sendiri masih dipercaya oleh bank pemberi kredit. Tapi dana bank bukan satu-satunya pendanaan bagi pengembang."

Menurut dia, mempercepat penjualan proyek secara pre-sales merupakan strategi paling bagus dalam mendapatkan pembiayaan murah.

Dana yang didapatkan dari hasil pre-sales digabungkan dengan pinjaman untuk membiayai pembangunan konstruksi proyek dan biaya operasional lainnya.

Belakangan ini beredar rumor bahwa sejumlah proyek besar yang tengah dalam pekerjaan konstruksi terancam berhenti.

Alasannya pengembang kesulitan dana untuk melanjutkan proyek dan juga penjualan seret di pasar. (irsad.sati@bisnis.co.id)

Oleh Irsad Sati
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PILAR
    Suramadu akan sesuai jadwal
  • BPJT & investor bahas proyek 2009
    Usulan perubahan kontrak sudah disampaikan
  • Semarang-Solo siap konstruksi
  • Bahama garap hunian komersial di Tanah Lot