Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 16/07/2008
Peristirahatan terakhir jadi kontroversi
Taktik dan propaganda selalu tampak dan digunakan dalam peperangan. Hal ini juga yang berlaku di AS di bawah kepemimpinan Presiden Bush. Orang nomor satu di Gedung Putih itu seolah-olah tidak mau tahu berapa banyak warganya yang harus pulang ke tanah airnya dalam peti mati setelah tewas di Irak atau Afghanistan.
Bagaimana perasaan keluarga prajurit yang ditinggalkan selama-lamanya untuk perang yang sulit dicari pembenarannya. Bukankah negara yang sedang berperang seharusnya siap menghadapi realitas dari perang tersebut?
Kabar buruk dari medan perang, yang berawal dari Pentagon, kini menjadi isu hangat di Taman Makam Nasional Arlington. Direktur pemakaman tersebut baru-baru ini dipecat karena menolak perintah untuk menempatkan wartawan sejauh 50 yard, termasuk fotografer dan awak televisi. Perintah ini dikeluarkan agar media tidak bisa meliput pemakaman serdadu yang tewas di Irak dan Afghanistan secara mendalam.
Pentagon mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan usulan dari keluarga dan bukan peraturan yang mengada-ada.
Gina Gray, direktur pemakaman yang dipecat, mengatakan pada April lalu bahwa aturan yang dibuat untuk media di pemakaman Arlington memang diperketat dan dia berjanji untuk mendobrak aturan yang dianggap tidak beralasan tersebut.
Di tengah berlanjutnya kontroversi, pejabat militer berjanji untuk menempuh jalan tengah. Namun, sejauh ini hal itu tidak mampu menyelamatkan karier Gray.
Sebelumnya Gray mengeluh karena pejabat di pemakaman tersebut meminta para keluarga ahli waris untuk mendukung mereka agar tidak menjadi fokus peliputan media.
International Herald Tribune, 14 Juli
bisnis.com