Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 18/07/2008
Pertimbangan matang soal bahan bakar
Pejabat Eropa telah jauh memandang ke depan tentang romantisme dunia dengan biofuel yang begitu membara. Mengapa Amerika Serikat tidak melakukan hal serupa?
Bukti bahwa para petani lebih memilih untuk memenuhi permintaan untuk bahan baku biofuel-terutama jagung, soybeans dan sugar cane-pada akhirnya menyebabkan peningkatan harga pangan dunia dan deforestrasi. Dan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan bakar nabati itu meningkatkan emisi karbon.
Berkaca pada fakta tersebut, Eropa mengelak untuk terlalu banyak menggunakan produk pertanian demi biofuel. Menteri energi Inggris dan Jerman berambisi untuk bisa mencapai keinginan tersebut. Parlemen Eropa sepakat untuk memberlakukan ketentuan 20% biofuel berasal dari ganggang atau sumber lain di luar sektor pertanian.
Berkebalikan dengan itu, Kongres AS menetapkan kebijakan energi pada 2007 yang menyatakan setiap tahunnya akan diproduksi 26 miliar galon biofuel sampai 2022. Saat ini, seperempat dari produksi jagung AS adalah untuk biofuel. Kebijakan pertanian yang diluncurkan bulan lalu malah menguras pasokan bahan bakar alternatif itu. AS harus berpikir bijaksana untuk mendorong penggunaan bahan bakar alternatif tersebut.
International Herald Tribune, 17 Juli
bisnis.com
Berita Lain
- Korut ingin aktifkan lagi program nuklir
- Tak ada peluru dan damai di Georgia
- Pemda & DPRD tak peka
- Penduduk melawan Yakuza
- Melepaskan Obama dari pendukung Clinton